Sabtu, 20 Juli 2013

Don't Judge the Book by Its Cover

Tiba-tiba saja jadi ingat akan quote disamping ini, gegara ngobrol dengan seorang teman tadi malam. Obrolan santai ngalor ngidul, membawaku pada hal yang senada dengan quote ini. Don't Judge the Book by Its Cover.

Pernah enggak sih, Sobs, ngerasa bahwa kita itu tanpa sadar telah dengan begitu gampangnya menilai bahkan 'menghakimi' seseorang/sesuatu hanya berdasarkan tatapan/pandangan pertama? Aku pernah mengalami/melakukannya beberapa kali. Gak sengaja sih, tapi hebatnya lagi, Allah langsung 'menegur'ku serta merta lho. Ga pake lama. J

Ceritanya begini nih, Sobs.

Kisah 1. Suatu sore di Banda Aceh. Aku dan Intan sedang main ke Pantai UleeLheu, sebuah pantai indah yang biasa digunakan oleh anak-anak muda mau pun masyarakat pada umumnya, untuk bersantai dan nikmati momen cantik kala sang mentari yang masuk ke peraduan. Nah, melintaslah seorang wanita cantik dengan pakaian yang membungkus tubuhnya dengan ketat. Tetap berjilbab sih, tapi ya ngono deh, ketat banget. Sebenarnya, kalo tanpa jilbab sih, hatiku ga akan langsung ber'celoteh'. Namun karena kepalanya dibungkus hijab, langsung deh tanpa sadar hatiku memberikan penilaian. Ih, nih orang maksudnya apa sih berpakaian seperti ini? Kalo belum ikhlas berbusana muslim, ya ga usah, jangan dipaksa seperti ini. Kan keliatan banget kalo dia belum ikhlas berjilbabnya? 

Sang senja pun berlalu, mentari telah bersembunyi di peraduannya, menyisakan langit temaram tanpa rembulan. Mungkin rembulannya sedikit macet kali ya, makanya telat sampai ke pantai UleeLheu untuk lanjutkan tugas penerangan. Hehe. Back to the story. Kami [aku dan Intan] pun beranjak, meninggalkan UleeLheu menuju mesjid raya Baiturrahman. Ingin shalat maghrib donk di mesjid kebanggaan masyarakat Aceh ini. Namun ternyata, mukena yang biasa selalu tersedia di dalam Gliv, lupa aku balikkan ke Gliv setelah dicuci. Jadinya kami hanya mengandalkan mukena yang tersedia di Mesjid Raya deh nanti. Tak apa, toh mesjid ini juga menyediakan banyak sekali mukena,

Namun, olala, ternyata semua mukena sedang di pakai oleh jamaah yang sedang shalat. Ya, ngantri deh. Duduklah kami di salah satu bagian, dekat pilar mesjid yang begitu megah. Targetku, aku akan meminjam mukena yang dipakai oleh seorang wanita yang sedang shalat, tak jauh dari kami. Dan Intan akan pinjem mukena dari orang di sebelahnya. Dan taukah Sobats apa yang terjadi?
Aku sampai terpana saat mendekati wanita yang sedang melepas mukena itu. Wanita yang akan aku pinjem mukenanya itu. Ya Allah, ternyata tak lain dan tak bukan adalah wanita yang tadi aku 'nilai' cara berpakaiannya! Dan kini, Allah menuntunku untuk mendekatinya, dan meminjam mukena darinya! Astargfirullah, ampuni hamba ya Allah. Siapa pun dia, bagaimana pun cara berpakaiannya, apa pun yang dilakukannya, tak seharusnya hamba 'menghakiminya' atau under estimate terhadapnya. Ampuni hamba ya Allah. Dan wanita itu, dengan penuh keramahan meminjamkan mukenanya padaku, dan menanti dengan sabar hingga aku menyelesaikan shalatku. Sungguh sebuah pembelajaran yang sangat berarti bagiku malam itu. Thanks for the lesson learnt, ya Allah. 

Kisah 2. Kami sedang bersiap-siap, menanti waktu boarding di waiting room, bandara Soekarno Hatta, menuju Bali. Saat itu, aku dan timku akan mengawal rombongan dari PemKo Banda Aceh, untuk sebuah kunjungan kerja ke Denpasar. Tak jauh di depan tempatku berdiri, masih dalam jangkauan mataku, seorang wanita Asia [aku ga tau apakah dia Indonesian or Malaysian] sedang dicium dengan mesra oleh seorang bule. Langsung hatiku 'mencela'. Ih, sabar dikit napa sih? Toh nanti di Bali, pada tempatnya kalian akan bisa berasyik masyuk sesuka kalian! 

Taukah apa yang terjadi kemudian, Sobs? Hihi. Pasangan yang sedang kasmaran itu, ternyata tempat duduknya adalah tepat di sampingku. Hadeuh! Hahaha. Dan aku langsung mengingatkan diri, untuk 'cukup sudah' menilai orang. Tampaknya apa yang dibatin oleh hatiku, selalu saja akan memberi efek tertentu bagiku. Contohnya, ya dua kasus di atas ini nih, Sobs! Maka, sejak itu, setiap membaca hal-hal yang berkaitan dengan quote 'don't judge the book by its cover', ingatanku pasti akan lari pada cerita ini deh, Sobs, Walau, jika ditelaah sih, mungkin tidak terlalu tepat mengenanya. Namun bagiku, it is a good lesson learnt bagiku untuk tidak mudah menilai/menghakimi sesuatu lagi. :)

Sobats punya pengalaman serupa? Yuk share di kolom komentar. J

Selasa, 16 Juli 2013

Keep The Spirit, Sayang!



Ini adalah sebuah kisah di penghujung perjalanan kami [aku dan Intan] kembali dari Garut, beberapa waktu yang lalu, saat menghadiri undangan Chocodot anniversary Pers Conference. Sepanjang hari, putri tercinta itu terlihat happy. Sama sekali tak ada tanda jika mendung bermuatan hujan akan tumpah mewarnai sore menjelang malam itu. Bahkan sebelum menurunkan rombongan [rekan blogger Bandung] di tempat parkiran motor mereka, Intanku masih bersenandung riang.

Namun, awan kelabu itu mulai menggelayuti langit biru, justru saat kami hampir mencapai rumah/kosan. Tak ada lagi suaranya setelah jari jemari itu lincah menari di keypad smart phone nya. Kulirik dengan ekor mataku, dan mendung itu terlihat nyata. Apa gerangan yang terjadi?

"Kenapa sayang? Kok tiba-tiba jadi diem? Tadi masih riang malah becanda dengan odot?" Usikku, mencoba memancing cerianya. Dua boneka baru berbentuk domba garut yang diberinya nama Choco dan Odot, terlihat nyaman dalam pelukannya.

"Mi, Dila kecewa! Teman Dila payah!" Keras nadanya dalam kecewa.

"Lho, payah gimana? Teman yang mana, Nak? Coba cerita." Pintaku.

"Iya, dia downline Dila. Barusan dia bilang dia mau mundur aja. Ga mau lagi terusin bisnis kami! Dila kecewa kali sama dia. Padahal sebelum kesini, kami udah bikin strategic planning untuk maju bersama dalam bisnis ini." Terdengar suara itu berlomba antara dongkol dan kecewa. Aku paham benar situasinya. Jelas Intan sangat kecewa, karena tadi malam dia begitu bahagia sharing tentang bisnis dan dowline-nya yang sevisi dengannya. Yang sama-sama bersemangat dalam menggapai impian mereka.

Ya, ternyata, walau sibuk dengan urusan sekolahnya, putriku sedang serius mengembangkan bisnis yang sedang digelutinya. Bahkan sempat membuatku takjub karena putri tercinta yang mandiri ini, sudah mulai memiliki penghasilan sendiri setiap bulannya. Juga sempat membuatku terharu, karena sempat memintaku untuk tidak lagi mengirimnya biaya sekolah, karena dia sudah mulai mampu mengcovernya dari hasil bisnisnya itu. Ya ampun, sayang! Umi bangga padamu, Umi sungguh terharu, tapi biarkan Umi tetap menunaikan tanggung jawab Umi, membesarkan, mengasuh dan menyekolahkanmu, itu adalah tanggung jawab Umi. Uang Intan, silahkan ditabung ya, sayang. Nanti, jika memang kita terdesak, uang itu yang akan menolong kita, ok sayang? 

Kembali pada mendung yang menggelayuti langit biru putri tercinta, aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai bicara. Aku sungguh dapat merasakan betapa kecewa hatinya, mendapati kenyataan ini. Jika menurutkan kata hati sih, situasi ini hampir seperti teman yang menusuk dari belakang. Namun apakah demikian? Tidak. Tentu tidak demikian, walau Intan sedang merasakan seperti itu. Ini yang harus segera dibenahi. Putriku butuh input dan bantuan pencerahan mindset!

"Sayang, Umi mengerti banget situasi ini. Umi paham jika Dila jadi begitu down mendengar kabar ini. Tapi...," Kuhentikan sejenak, tetap mengemudi namun tangan kiriku meraih tangan kanannya. Menggenggamnya lembut, mencoba mengalirkan ketenangan.

"Tapi, kita harus paham, bahwa tidak semua manusia dibekali dengan semangat juang yang sama. Tidak semua manusia dianugerahi daya tahan yang sama besar, kala menghadapi cobaan. Dan yang paling penting untuk dipahami, setiap manusia itu memiliki passionnya masing-masing." Kuhentikan lagi bicaraku, membiarkan putriku mencerna perkataanku. Namun dirinya masih diam, mendengarkan dan menanti lanjutanku. Masih dalam keadaan mengemudi, kusuntikkan sugesti-sugesti semangat dan pemahaman baginya.

"Dila paham kan bahwa bisnis multi level marketing, adalah bukan bisnis biasa. Ini adalah bisnis luar biasa. Apanya yang luar biasa? Semuanya. Ya cara mengembangkannya, cara membina jaringan, cara memahami dan bagaimana melakukan sepak terjangnya, bagaimana mempertahankan semangat di kala kita jatuh, dan lain sebagainya, yang tidak bisa dilakukan dengan cara biasa-biasa saja." Kuhentikan lagi bicaraku.

Intan masih diam, namun jemarinya meremas-remas jemariku.
"Ya, nak. Tidak semua orang sanggup menjalankan bisnis luar biasa ini. Tidak semua orang punya kesabaran dalam membesarkan bisnis ini. Contohnya adalah sahabat Dila, downline Dila. Kita harus memahami, bahwa, ternyata, dia tidak punya daya juang yang cukup besar untuk bergerak di bidang ini. Ternyata, passionnya bukanlah di bidang ini. Jika passionnya adalah di sini, maka dia akan berjuang sekuat tenaga untuk tidak menyerah. Tapi ternyata? Dia malah mengundurkan diri. Artinya? Dia tidak memiliki daya juang prima untuk berkembang di sini. Dia tidak dibekali semangat untuk tetap fighting bersama Dila dalam menggapai impian kalian." Jeda sejenak, lalu kulanjutkan.

"Lalu, apakah Dila berhak untuk marah karena downline Dila mengundurkan diri? Tidak, Nak. Kita tidak boleh bersikap seperti itu. Kita harus bisa menghargai setiap keputusan orang lain, termasuk keputusan downline kita, yang sebenarnya bikin kita kecewa. Kita ga boleh marah, ga boleh membencinya. Justru Dila harus mencoba menghargainya, dan memahami, bahwa ternyata, dia mendapati dirinya tidak akan mampu berkembang di bidang ini. Dan sebagai upline yang baik, Dila harus menghargainya, dan rela melepasnya. Mengapa harus rela? Karena dengan rela dan ikhlas, kita tidak akan sakit hati, dan yakin deh, itu akan membuat langkah Dila lebih ringan dalam mendapatkan downline pengganti. Jadi, tetap harus...?"
Kugantung kalimatku agar disambung olehnya. Karena aku tau persis bahwa Intanku paham apa lanjutan kalimat yang aku inginkan.

"Positive thinking! Tapi sulit, Mi. Dila kesulitan dalam memprospek orang. Sulit meyakinkan orang lain untuk join di bisnis ini." Lirih suaranya.

"Nah, disitulah gunanya Upline Dila. Adalah tugasnya membantu downlinenya yang sedang jatuh. Termasuk dalam membantu prospekin calon downline Dila nantinya. Bukankah bisnis MLM itu adalah bisnis yang mengandalkan teamwork? Seorang upline tidak akan sukses jika dia cuek terhadap downlinenya, apalagi jika dia tidak mensupport downlinenya. Karena apa? Karena sukses tidaknya bisnis ini adalah berdasarkan kerjasama team. Jadi ibaratnya sebuah project nih, Nak. Gambarannya gini; upline adalah project coordinator, lalu downline nya adalah para staff project. Yang harus bekerja sama sesuai tugasnya masing-masing agar project dapat berjalan dengan baik. Can you get the point, sayang?"

Dan putri tercinta itu mengangguk, tapi masih terlihat keraguan bergayut di sana. Kuhentikan laju Gliv karena kami telah tiba di depan pintu pagar rumah. Kami masih berdiam diri di dalam mobil. Ingin kuselesaikan semua di sini, ingin kuusir mendung itu agar tak perlu ikut masuk ke kamar nantinya.

"Percaya deh, Nak. Ceritalah akan hal ini pada upline Dila, Umi yakin, dia akan mensupport Dila. Akan memberikan masukan-masukan dan pencerahan, dan bantuan agar Dila bisa bangkit dan semangat lagi. Apa perlu Umi yang bicara padanya?" Kuakhiri dengan senyum.

Gelengan kuat adalah refleks langsung darinya.

"Hehe, jangan donk, Mi. Dila bisa kok mengatasinya. Makasih ya, Mi. You are always the best! Ga kebayang kalo kabar ini Dila dapat saat Dila udah balik ke Banda. Mau ngadu ke siapa? Bisa ke Umi, tapi lewat BB, jadi ga bisa meluk Umi. Mom, so glad to have you here, as my Mom, and my best friend!" Dan sebuah pelukan erat merapat ke tubuhku. Kubalas dengan pelukan hangat seraya mencium pipi dan ubun-ubunnya.

"Btw, kita mau tidur di depan pintu pagar apa masuk ke dalam nih, sayang? Apa kita coba rasakan gimana rasanya bermalam di mobil? Hehe."

"Haha, Umi ada-ada aja!" Dan Intan langsung membuka pintu mobil, turun, membuka pintu pagar dan memandu aku parkir. Ya Allah, lindungi putri hamba, tetapkan semangat dan keceriaannya, ya Allah. Mudahkan jalannya. Aamiin.

Dan senyum itu mulai tersungging.
Apalagi dengan kehadiran pendatang baru, Choco [boneka domba garut milikku]
dan Odot [boneka domba garut milik Intan]
Souvenir dari Chocodot.
sebuah catatan tentang permata hati,
Al, Bandung, 17 Juli 2013


Sabtu, 13 Juli 2013

Reuni: Kurela Mati Saat Ini Juga

Credit and added with the words.

Ini adalah kali kedua kami bertiga bertemu kembali, setelah sekian lama saling 'bermusuhan'. Reunian. Itulah tema yang pas untuk momen ini. Kulihat mata putriku begitu berbinar. Senyum dan senandung cerianya tiada henti sejak kuiyakan ajakannya untuk tak hanya mengantarnya kepada dia, tapi juga bersedia bergabung dan jalan bareng dengan mereka.

Dulu, hal ini sangat sulit untuk kulakukan. Dan kuyakin, juga sulit baginya untuk melakukan hal yang sama. Betapa pun, persahabatan yang diakhiri dengan cinta, pasti akan indah dan membahagiakan. Namun sebaliknya, tak ada yang berani menjamin bahwa sebuah cinta yang berakhir/diakhiri, mampu bermuara pada persahabatan. Apalagi jika pihak perempuan yang menggugat dan memisahkan diri. Setidaknya, akan butuh WAKTU untuk memproses terwujudnya persahabatan kembali.

"Mi, makasih ya, Mi, udah mau nganterin dan ikutan bertemu Ayah. Dila bahagia banget!" Diciumnya pipiku lembut, dan kembali duduk manis di kursinya, membiarkan aku mengemudi dengan tenang.

"Iya sayang. Apa sih yang enggak untuk anak Umi?" Jawabku ceria. Mencoba mengukir senyuman di bibir putri tercinta.

"Hehe, makasih Umiku sayang. Mi, kalo Papa tahu, bakalan marah dan cemburu enggak tuh mengetahui Umi ketemuan sama Ayah?" Tanyanya, antara serius dan menggoda.

"Ya enggaklah, Nak. Kan papa tahu kalo kita mau ketemuan sama Ayah. Papa  tuh tau kalo Umi hanya cinta sama Papa. :)"

"Hehe. Emang Umi beneran cinta sama Papa? Sama Ayah masih cinta enggak, Mi?" Tanyanya menggoda.

"Iya donk, masak Umi cintanya sama si Man? Ya sama Papalah. " Selorohkku yang langsung disambut ngakak oleh Intan. Si Man adalah orang sakit jiwa yang sering melintas di depan rumah kami di Banda Aceh.

"Kalo sama Ayah? Masih cinta engak, Mi?" Ulangnya lagi.

"Ya enggak donk sayang. Kan Dila tau Umi paling enggak suka sama Ayah, tapi Alhamdulillah, sekarang ini Umi udah bisa deh kayaknya sahabatan sama Ayah." Jawabku jujur. Kulihat senyum terkembang di bibir putri tercinta.

Gliv melaju kencang, melintasi tol Cileunyi menuju exit gate Buah Batu. Rencananya kami akan bertemu dengan ayahnya Intan di exit gate ini, lalu Ayah Intan akan menitipkan mobilnya di sana dan bergabung dengan kami. Benar saja, sebuah VW Merah sudah parkir rapi tak jauh dari exit gate. Dan langsung mendekati kami begitu mengetahui mobil yang kami kendarai. Kuhentikan laju Gliv, parkir dengan baik sembari menanti ayahnya Intan mendekat.

Intan menyalami ayahnya dengan santun. Lalu kami saling bersalaman dan bicara sejenak. Layaknya sahabat. Tak kutemukan lagi dendam di antara kami. Subhanallah. Sejenak, mobilku sudah mengikuti mobilnya, menuju apartemennya, untuk menyimpan mobilnya dan dia akan ikut dengan mobilku. Ada rasa happy di hatiku melihat kehidupannya kini mulai teratur. Tidak lagi amburadul seperti sebelumnya, yang sering di'lapor'kan oleh kakak-kakaknya padaku. Yup, walau telah lama berpisah, namun hubunganku dengan mantan kakak-kakak ipar masih seakrab dulu. Masih sering mereka meng-update info tentang ayah Intan dan kelakuannya yang meresahkan. Namun kini, aku bisa menilai, banyak kemajuan yang telah dia lakukan dan capai. Alhamdulillah.

Dipinjem dari sini
Berkendara bertiga, bercanda tawa seperti ini, sungguh membawaku kembali ke beberapa tahun di masa silam. Saat kami masih dipersatukan di dalam ikatan mahligai perkawinan. Saat kami masih saling mencinta dan menyayangi. Aku sendiri tak tahu, rasa apa ini yang tiba-tiba mengalir sendu. Tawa kami berderai, tapi menatapnya, ada rasa sedih yang tiba-tiba menyayat hati. Sungguh, deeply in my heart, ku berdoa agar engkau juga beroleh bahagia. Kenapa masih menutup diri? Kenapa masih belum serius menentukan wanita mana yang akan dengan serius engkau nikahi? Taukah kamu? Rasa benci itu telah pupus. Ku berhasil mengikisnya. Adakah hal yang sama juga merajai hatimu kini? Akankah kita bersahabat baik? Can we?


Obrolan kocak dan derai tawa yang membahana, sungguh sukses menebar aura positif di antara kami. Perlahan tapi pasti, dia mulai bercerita tentang kehidupan dan rasa optimisnya kini, tuk jalani kehidupan yang lebih baik. Alhamdulillah. Kulihat putri kami juga tersenyum bahagia. Sebuah message masuk di BBku dari ananda yang duduk di kursi belakang.


Mi, kasih masukan ke ayah agar hemat dan bekerja dengan baik. Agar ga merokok lagi. 

Kubalas dengan jempol, disambut senyum manis berupa icon smile. Tentu aku tak segampang itu masuk ke kehidupan pribadinya. Harus lihat momen donk, Nak. Namun, sepertinya, dia kembali menjadikanku sebagai tempat curhatnya, seperti dulu, kala aku masih berstatus istrinya. Tiga puluh menit perjalanan kami ke sebuah pabrik garmen [untuk belanja baju baru Intan], dihabiskannya dengan update informasi tentang pekerjaan yang membawanya ke Bandung ini. Tentang project yang ditangani dan dipercayakan padanya. Sudah gatal mulutku sebenarnya untuk menasehatinya, agar tak lagi seceroboh dulu. Agar kini, bisa lebih bertanggung jawab, dan bekerja dengan maksimal dan hati-hati. Namun kujaga mulutku agar tak melontarkan hal itu. Aku hanya mantan istri, dan tak punya hak untuk masuk ke kehidupannya. Namun entah kenapa, aku tak bisa mengunci mulutku. Hehe.

Rasanya sayang aja kalo dia terjerembab lagi, gara-gara lupa akan prioritas. I knew him well. I knew his weaknesses as well as his strength. Sayangnya, weaknesses-nya >  strength. Itulah yang harus dibalik. Tercetus juga akhirnya nasehat-nasehat sok bijak dariku. Yang anehnya, sama sekali tidak membuatnya marah. Justru diterimanya dengan baik. Bahkan dengan serius dia berbagi info, meminta saran dan pendapat dariku tentang project dan rencana-rencananya ke depan. Bahkan saat memilih pakaian untuk dirinya sendiri, dia masih meminta aku pilihkan.

"Ini bagus enggak, Mi untuk Ayah? Cocok ga? Maklum Ayah ga punya istri nih, jadi ga tau harus tanya ke siapa." Sedih juga hatiku. Intan tak mendengar karena berada jauh di sana.

"Kurang bagus, coba yang ini. Ayah kan kulitnya gelap, jadi jangan yang gelap lagi dunk warnanya. Gimana sih? Masak lupa, kan dulu Umi sering bilang? Makanya, Ayah tuh cepat donk nikah lagi!"

"Hehe, mana tahu trendnya udah berubah, kulit gelap pake yang gelap biar keren, hehe. Ayah males kawin lagi. Susah nyari yang kayak Umi."

"Huuuu! Mulai deh! Lebay, Gombal! Jadi si Tari gimana? Kenapa sih Ayah pending-pending terus? Kalo emang ga jadi ya dikabarin, jangan dipending gitu anak orang. Kasian kan?"

"Ha? Tari? Aha, pasti Mbak ngadu sama Umi ya? Kurang asem mereka tuh!" Dan diraihnya hapenya. Oops! Gawat deh ini. Aku jadi ga enak deh ntar sama mantan kakak ipar. Gawat nih. Namun ternyata...

Dia malah tertawa-tawa dengan sang kakak di seberang sana. Malah memberikan hapenya kepadaku untuk ikutan bersilaturrahmi dengan si mbak, yang memang sudah sekian bulan ini tidak saling terhubung. Sapaan ramah mantan kakak iparku, menyejukkan hati. Sebuncah rasa kangen membludak di dada. Bagaimana pun, mereka adalah kakak-kakak yang hangat, kakak yang lebih dari delapan tahun menyayangi dan memberi kehangatan kasih bagiku selaku adik iparnya. Intan juga tak ketinggalan berkomunikasi dengan budhe-budhenya. Dan di penghujung pembicaraan, seperti biasa 'oleh-olehnya jangan lupa ya, nak. Minta Umi pilihkan untuk budhe.!" Hehe.

Gampang, aku akan membajak Ayahnya Intan donk untuk beli oleh-oleh bagi sang kakak. Gampangkan? Dan dia menangkap sinar itu dari mataku. Haha.

"Pasti oleh-oleh akan lari ke dompet Ayahkan?"

Aku dan Intan langsung ngakak.

Hari yang indah, tak terasa sehari penuh kebersamaan kami. Jalan-jalan mengelilingi kota Bandung, kuliner dan berbelanja keperluan Intan. Yes, kapan lagi, jarang-jarang kan Intan dibelanjain oleh Ayahnya. Semoga rezeki ayah mengalir lancar ya, Nak, jadi Ayah bisa menunjukkan tanggung jawabnya pada anaknya. Yuk kita doakan Ayah agar sehat selalu, dan lancar rezekinya. Aamiin. Oya, juga agar segera dapat jodoh yaaa. :)

Malam harinya, Intan tidur dengan pulas dengan senyuman yang kerap terukir indah, mimpi indahkah putri tercinta ini? Semoga saja. Dan paginya,....

"Mi, Makasih banget ya, Mi. Am so happy!"

"Lho, makasih apa, Nak? For what?"

"Untuk kebersamaan kita kemarin. Do you know, Mom? Dila rasanya rela mati deh tadi malam setelah kebersamaan kita. Rela mati karena kebahagiaan Dila udah sempurna." Dipeluknya aku, dan setitik air bening langsung menggenangi bola mataku. Haru.

"Tapi kalo sekarang, Dila engga ingin mati, Mi, inginnya kita sering-sering ketemu Ayah. Maunya kan, Mi, Ayah segera nikah, terus kita jalan-jalan berlima gitu. Dan Dila bisa dapat uang jajan dari Ayah, Mama, Umi dan Papa. Hehe."

"Huuu, dasar anak Umi mata duitan!" Dan sebelum kena cubitan, Intan sudah berlari ke kamar mandi.

sebuah catatan dalam perjalanan kehidupan,
Al, Bandung, 13 Juli 2013. 



Ayam Tangkap Khas Aceh ala So Good

Bagi yang sering main ke Aceh, khususnya Banda Aceh, pasti sudah familiar deh dengan kulinari yang satu ini. Yes, ayam tangkap khas aceh. Ra...