Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2013

Tradisi Unik Memuliakan Tamu di Turkey

Melanjutkan postingan 'sensasi lebaran di negeri orang - Turkey', tak asyik rasanya jika tidak pula menurunkan sebuah postingan tentang keunikan yang dimiliki oleh negeri dua benua ini. Yup, sebuah tradisi unik dalam memuliakan tamu. Menurutku, tradisi ini sangat unik, dan sungguh berhasil membuat hati para tamu merasa dimuliakan. :)

Kebetulan, hari Sabtu kemarin, 10 Agustus 2013, kami diundang oleh ayah angkat adikku untuk bersilaturrahmi lebaran ke rumah mereka. Hubungan baik yang telah terjalin, bukan hanya antara adikku dan si ayah angkat sih, tapi juga telah terjalin akrab dengan anggota keluarga lainnya. Tak hanya dengan anak-anak si ayah angkat, tapi juga dengan orang tua, kakak dan adik beliau. Sehingga tak heran, jika kunjungan kami ke rumah mereka [walau baru pertama sekali], langsung terjalin hangat dan bersahabat. Selain itu, beliau juga sudah pernah berkunjung ke Aceh, tepatnya ke rumah ayah dan ibuku, pada saat awal tsunami dahulu. Jadi tak heran, mendengar kedatangan ayahku, maka beliau mengundang kami secara khusus untuk datang ke rumahnya, tepatnya di Idul Fithri.

And, here we are. Beliau sendiri yang mengemudi, menjemput kami ke apartemen adikku. Tak langsung dibawa ke rumahnya, tapi beliau membawa kami 'city tour' dengan dirinya langsung bertindak sebagai tourist guide-nya. Menceritakan sejarah Turkey dengan kebanggaan nasionalisme yang tinggi. Salut dengan semangat dan keramah-tamahannya deh.

Singkat cerita, sampailah kami ke apartemen beliau. Sebuah apartemen yang juga unik. Beliau bercerita bahwa dirinya dan 39 teman-teman dekatnya, sepakat untuk men-design dan membangun apartemen ini secara patungan, sekitar 20 tahunan yang lalu. Dan sebagaimana layaknya kota-kota besar lainnya, mostly masyarakat istanbul memang tinggal di apartemen-apartemen, ada yang milik sendiri, ada pula yang berstatus sewa. Well, back to title of the post.

Tradisi membasuh tangan tamu dengan Cologne

Anak dan istrinya telah menanti kedatangan kami di apartemen mereka. Menyambut kami dengan penuh keramahtamahan dan hangat. Salaman dan cipika cipiki, lalu kami dipersilahkan duduk. Sebuah ruang tamu yang luas, nyaman dan lux. Wow banget deh pokoknya. Namun yang lebih bikin Wow adalah saat si anak perempuannya mendekati kami dengan membawa sebotol apa gitu... tadinya aku ga ngeh untuk apa itu. Namun karena dia mendekati adikku terlebih dahulu, dan adikku memberi aba-aba dalam bahasa Aceh dan dalam bahasa Rusia bagi istrinya 'ikuti seperti yang saya lakukan ya, Yah.', kami pun memperhatikan dengan khidmat.

Si putri cantik itu meneteskan beberapa tetes cologne tersebut ke tangan adikku, dan si adik lalu membasuh tangannya [seperti kita menggunakan handy clean], lalu mengusapkannya pada seputar pipi dan lehernya. Lalu dengan tangan yang sudah bersih itu, adikku mengambil butiran coklat/manisan dari piring yang disodorkan oleh si putri. Oh, begitu prosesinya ternyata. 

Lalu si putri mendekati ayahku, ayah menadahkan kedua tangan menerima tetesan cologne dan melakukan hal serupa yang tadinya dilakukan oleh adikku. Selanjutnya giliran aku dan adik iparku mendapatkan kehormatan serupa. Sungguh, menurutku ini adalah tradisi unik yang sukses menyanjung hati para tamu. :) Sayangnya, prosesi ini luput dari pemotretan gegara tukang potret [aku dan adik ipar] terpana akan prosesi ini.

Selanjutnya, seperti lebaran di negeri kita, di mana kita menyajikan lontong/ketupat sebagai makanan kebesaran lebaran, maka mereka pun memiliki makanan kebesarannya juga lho. Hanya saja, tentu berbeda jauh dari rasa yang disukai oleh lidah Asia [yang gemar akan rasa rempah], haha. Tapi so far, kami menikmatinya, apalagi mereka menyajikannya dengan penuh penghormatan dalam menyambut tamunya. Jadi, kami berupaya maksimal untuk menghabiskannya lho. Hehe.



Selesai menikmati santapan kebesaran lebaran, kami tunaikan shalat zuhur, dan kemudian diajak untuk bertamu ke rumah ayahanda dari si ayah angkat adikku. Tujuannya adalah, si ayah angkat, ingin memperkenalkan kami pada orang tuanya serta adik-adiknya, serta merasakan sensasi tradisi masyarakat Turki dalam menyambut tamu/lebaran. Dan, sungguh, kembali kami dibikin takjub. Setelah bersalaman, cipika cipiki, kami pun dipersilahkan duduk, dan mengalami prosesi 'basuh tangan' seperti di rumah si ayah angkat tadi. Kali ini, salah satu tuan rumah [ponakan laki-laki dari si ayah angkat] yang melakukannya. Menuangkan cologne dan membiarkan kami membasuh tangan kami, lalu mempersilahkan kami mencicipi manisan yang disodorkan dari piring dihantarkannya. :) Amazing.

Di rumah yang hangat ini, kami pun disuguhkan hidangan ala Turki, namun karena sudah mengkonsumsi makanan 'berat' sebelumnya, maka kami hanya disuguhkan kue-kue ala Turki. Obrolan hangat dalam bahasa Turki pun berlangsung meriah, antara adikku dan seluruh tuan rumah. Hanya aku, ayah dan adik iparku yang terbengong-bengong dan error [baca : tidak mengerti bahasa yang satu ini], haha. Namun adikku, tentu tak membiarkan kami terbengong begitu saja, maka jadilah dia translater dalam tiga bahasa. Turkey, Aceh dan Rusia. Aceh untuk aku dan ayah, sementara Rusia untuk istrinya. Beruntungnya, salah satu keponakan dari tuan rumah lancar berbahasa Inggris, sehingga jadilah aku bagai mendapatkan secercah cahaya. Happy, jadi bisa cuap-cuap deh, speak English with her. :)

Cay [Teh] ala Turkey

Masyarakat dari negeri dua benua ini, memiliki kebiasaan minum teh yang sudah mendarah daging. Bahkan adikku yang asli putra Aceh sejati, pribumi Indonesia asli ini pun, saking sudah sekian lama [10 tahunan] berdiam di negeri ini, jadi terikut-ikut menikmati kebiasaan ini deh! Minum teh, hampir setiap saat terutama setelah makan [breakfast, lunch and dinner]. Dan, minum teh ini, jangan bayangkan dalam porsi-porsi yang besar lho, Sobs. Gelas yang digunakan untuk menuangkan teh ini, imut banget! Mungkin kalo kita tidak tahu bahwa memang beginilah adat mereka, kita akan beranggapan bahwa mereka itu pelit, masak ngasih teh dalam gelas secilik itu! Haha.




KopDar dengan seorang sahabat virtual

Adat memuliakan tamu ini, tak hanya menjadi milik ayah angkat adikku dan keluarganya, tapi adalah juga milik warga lainnya di negeri ini. Kebetulan, hampir di setiap kunjungan ke suatu tempat, Alhamdulillah, aku senantiasa diberi kemudahan untuk bisa bertemu muka [KopDar] dengan sahabat virtual yang selama ini komunikasi dan interaksinya jelas hanya di dunia maya. Berkunjung ke Istanbul pun, memberiku kesempatan untuk bertemu muka dengan salah satu sahabat maya yang sudah sekian lama bersahabat di dunia virtual. Dan, sungguh memberi kesan tersendiri bagiku saat aku mendapatkan kemuliaan [perlakuan] serupa seperti saat berkunjung ke rumah si ayah angkat adikku.

Si sahabat maya nan tampan ini, bertamu ke rumah kami, dan ternyata, Sobs, mereka juga punya adat seperti kita lho. Membawa buah tangan. Hehe. Disambut baik oleh ayah dan adikku, apalagi mengetahui bahwa ini adalah pertemuan pertama di dunia nyata antara aku dan dia, membuat ayah takjub. Selanjutnya aku dan dia memutuskan untuk jalan-jalan ke museum dan beberapa bazaar, mumpung dia sedang cuti dan ingin menunjukkan keindahan negerinya padaku. Ya hayuuuk aja dunk. Dan, perlakuan 'memuliakan' tamu itu, kembali membuatku tersanjung dan merasa sungguh dimuliakan. Saat itu, kami singgah untuk makan siang di sebuah cafe di tepi sungai dan terrletak di bawah jembatan lho, Sobs. Eits, sama sekali ga kumuh, tapi indah dan nyaman. Beberapa tali pancing malah menjulur bebas dari para pemancing di atas jembatan, menjuntai ke dalam air sungai yang bersih itu. Nah, saat menanti pesanan makanan dibawakan, tiba-tiba dia mengeluarkan sebotol cologne mungil dari tas kecil yang dibawanya, dan memintaku untuk menadahkan tangan. Dia menjelaskan adat istiadat negerinya itu, yang tentu telah aku mengerti [Kan udah duluan praktek kemarin di rumah si ayah angkat. Hehe]. Dan teteup, aku sungguh terharu dan merasa sangat dimuliakan. :) Sebuah tradisi unik yang menyentuh hati, dan akan lekat di ingatan.

Well, Sobs, sekian dulu oleh-oleh edisi lebaran di negeri dua benua ini yaaa. See you in the next post, tentang kisah unik lainnya selama keberadaan kami di negeri indah bernama Turkey, tepatnya di kota metropolitan Istanbul.

Sepenggal Catatan dan Kenangan Perjalanan, 

Featured Post

Ayam Tangkap Khas Aceh ala So Good

Yuhuu, akhirnya, Ayam Tangkap Khas Aceh ala So Good siap dihidangkan! Bagi yang sering main ke Aceh, khususnya Banda Aceh, pasti sudah fa...

Popular Posts