Tampilkan postingan dengan label #10daysforasean. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #10daysforasean. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

Ke Myanmar Harus Bayar Visa? Oalah!

Memasuki hari ke empat, panitia #10daysforasean memberikan tema tantangan yang menarik nih, Sobs!
Tentang Visa. Bukan, bukan Visa yang berhubungan dengan jenis kartu kredit/debit dan perbankan lho. Melainkan mas VISA yang senantiasa mendampingi Mbak Passport saat kita bepergian keluar negeri. Udah pada tau kan ya, bahwa Visa adalah dokumen yang dikeluarkan oleh sebuah negara untuk memberi izin bagi seseorang untuk masuk ke negara tersebut dalam suatu periode waktu dan tujuan tertentu. Berisi biodata, masa berlaku visa, dan jenis visa [kunjungan wisata, pendidikan, kerja dan lain-lainnya]. Visa tersebut dapat berupa sebuah sticker [Visa On Arrival] atau lembaran pengesahan khusus yang ditempelkan pada passport kita, sebagai bukti perizinan yang kita peroleh dari negara yang kita kunjungi, untuk masuk dan berkunjung di negara tersebut.

Bicara tentang aplikasi Visa, memang susah-susah gampang. Artinya ada negara yang begitu memudahkan calon wisatawannya dalam pengurusan visa, ada pula yang ribet dan berbelit-belit bahkan akhirnya gagal. So far, baru lima lembar visa yang menempel manis di lembaran passport baruku. Yaitu visa Turkey [3 kali], visa Belarus dan visa Iran. Dan as I said, mengurus visa itu memang susah-susah gampang! :)

Untuk Turkey, aku akui bahwa negeri yang satu ini sangat terbuka dalam menyambut calon wisatawan masuk ke negerinya. Negeri ini begitu menyadari bahwa sektor pariwisata adalah sebuah aset yang harus didukung, dikemas apik serta dipermudah jangkauannya. Salah satu caranya adalah dengan mempermudah pengurusan visa bagi calon visitors/wisatawannya. Tak hanya memberikan kemudahan melalui Visa On Arrival [VOA], tapi negeri cantik ini telah pula menyediakan pelayanan visa online [electronic visa]. Sehingga calon visitors tak harus lagi antri di loket Visa on Arrival begitu landed di negara ini, cukup menuju ke bagian Passport Control, menunjukkan passport beserta elektronic visa yang telah di print out. Praktis banget ya, Sobs! Tak heran jika negeri ini dibanjiri oleh wisatawan luar negeri.

Cuma nih, Sobs, ada kekurangannya deh kalo beli elektronic visa! Apa tuh kekurangannya?
Kekurangannya adalah, si elektronic Visa yang kita cetak di selembar kertas A4 itu, ga bisa nempel manis di lembaran passport deh. Bahkan setelah kadaluarsa [begitu kita exit/keluar] dari negeri yang bersangkutan, si lembaran itu, dengan sendirinya akan menghilang alias kita buang. Hehe.

Sementara jika kita membeli VOA [Visa on Arrival], stikernya akan duduk manis di lembaran passport, seperti ini deh, Sobs!


Sementara untuk mengurus visa masuk ke negara Belarus dan Iran, ternyata tidaklah segampang masuk ke Turkey. Diperlukan ritual khusus untuk mendapatkan visa masuk ke kedua negara ini. Dulunya sih, masuk ke Iran  masih bisa VoA, tapi sejak Indonesia tak lagi memberlakukan VoA bagi pemegang passport Iran, maka kemarin saat kami hendak ke Iran, kami harus apply visa sesuai prosedur normal. Dan hampir saja ga dapat persetujuan, karena kami apply in urgency dan mengurusnya dari Istanbul pula, bukan dari Indonesia, di mana kami berdomisili. Untung saja dapat bantuan surat sakti dari pihak berwenang sehingga akhirnya visa ke Iran dapat kami peroleh dalam waktu dua minggu. Alhamdulillah. Hal yang sama juga berlaku dalam pengurusan visa ke Belarus, 'bantuan khusus dari pihak terkait, akhirnya membuahkan kertas cantik itu akhirnya nongkrong manis di lembaran passportku. 

Visa Iran
Visa Belarus

Nah, Sobs, terlihat jelaskan bahwa selain sebuah passport sebagai identitas diri, maka syarat sah keluar negeri [masuk ke sebuah negara lain] adalah harus dilengkapi dengan VISA. Namun, keadaannya akan lain [tidak butuh VISA], jika kita [warga negara Indonesia] berkunjung atau masuk ke negara-negara jiran yang adalah anggota Asean. Yaitu; Malaysia, Thailand, Singapore, Philipine, Brunei Darussalam, Vietnam, Cambodia, Laos, dan [seharusnya] Myanmar. Mengapa menggunakan kata 'seharusnya' di dalam kurung?

Karena ternyata, Sobs, tema tantangan hari keempat #10daysforasean sungguh telah membuka mataku. Bahwa sesungguhnya, untuk masuk/berkunjung ke Myanmar, ternyata kita KUDU Beli VISA!  Oya? Yes! Lihat deh, jelas sekali tercantum di dalam tema tantangan hari keempat tantangan 10 hari ngeblog for Asean.

  • Hari Keempat : Visa 
  • Hampir semua negara di ASEAN, telah membebaskan pengurusan visa bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke negaranya, namun tidak dengan Myanmar. Kenapa ya, berwisata ke Myanmar tidak cukup dengan mengandalkan paspor saja? Perlu atau tidak visa bagi perjalanan wisata? 
  • Tuliskan pendapatmu di blog, setelah itu twitt postingan dengan #10daysforASEAN mention @aseanblogger. Deadline: Jumat, 30 Agustus 2013, pukul 08.00 WIB.

Tuh kan? Walau berkunjung ke Myanmar belum termasuk ke dalam list of my destination, tapi kaget aja sih mengetahui hal ini. Lain halnya jika perlakuan ini [kewajiban membayar Visa] diberlakukan untuk warga negera non anggota Asean, itu akan terlilhat lumrah, tapi ini untuk sesama anggota Asean gitu lho! Masak harus bayar Visa juga sih, Myanmar? Ada apa denganmu? Bukankah sesama warga Asean itu harus saling percaya, dan saling dukung mendukung? Termasuk di dalam hal kunjung mengunjungi?


Mengapa sih Berwisata ke Myanmar tidak cukup dengan mengandalkan paspor saja? 

Jika pertanyaan di atas membutuhkan jawaban, maka jawaban yang paling tepat menurutku adalah bahwa negeri yang baru saja lepas dari kecamuk 'badai' ini sedang berbenah diri. Untuk berbenah diri dan tidak terpuruk kembali ke dalam 'ranjau' yang masih tersisa, atau malah akan membuat ranjau-ranjau itu kian meningkat, maka negeri ini merasa perlu untuk mengaktifkan 'ranjau detector', agar dapat meminimalisir resiko 'bencana'. Nah, ranjau detector itu adalah Visa, untuk mendata, menyaring/filtrasi para pendatang/penyusup yang masuk ke negerinya. Beuh, bahasanya ampun banget deh, Al! Hehe. Tapi, hal ini kan akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi calon wisatawan yang ingin berkunjung [dan menyumbangkan devisa] ke negeri ini! Bisa-bisa malah menghambat minat para warga Asean lainnya untuk main ke sini donk nanti?

Iya sih, tapi, apa pun alasan Myanmar melakukan hal ini, sebagai tetangga yang baik, kita harus menghormatinya kan? Biarkan mereka menerapkan hal ini sementara waktu, mungkin untuk ke depannya, seiring dengan terbangunnya kepercayaan dan kekompakan antar sesama Asean, the Mystical Myanmar ini akan membebaskan kewajiban Visa bagi sesama anggota Asean. Bisa saja kan?


Perlu atau tidak visa bagi perjalanan wisata? 


Menurutku sih, Myanmar tidak perlu memberlakukan Kewajiban Membayar Visa bagi wisatawan/visitors yang berasal dari anggota Asean. Sama seperti yang diberlakukan oleh negara-negara anggota Asean lainnya. Apalagi dengan terbentuknya Komunitas Ekonomi Asean 2015 nanti, bukankah sudah saatnya kita saling percaya dan bahu membahu dalam mencapai kemajuan dan kejayaan bersama? Lain halnya jika tujuan masuk ke Myanmar adalah untuk bekerja, misalnya, itu baru lain cerita.  Bagaimana menurutmu, Sobs? Are you in the same page with me? :)


Kamis, 29 Agustus 2013

Marvelous Indonesia, The Islands of Adventures

Memasuki hari ketiga, tantangan #10daysforasean makin berat saja. Huft. Bener-benar timing yang salah deh ini, mengintip tema hari ketiga kok di sela seabrek urusan offline yang belum berhasil dibenahi benang kusutnya. Hasilnya adalah, si benang semakin kusut dan pikiran mulai semwarut, mencari-cari apa sih tagline yang tepat untuk nge-branding my lovely country ini, selain branding yang sudah ada, yaitu Wonderful Indonesia. 

Emang apaan sih Al tema hari ketiga dari tantangan #10daysforasean itu?


Hari Ketiga [Rabu, 28/08/2013]: Branding Nation
Indonesia kaya dnegan beragam budaya, namun di sektor wisata, Malaysia lebih berhasil mem-branding 'Truly ASIA'. Kira-kira apa ya branding yang cocok untuk Indonesia? Buat tagline, dan jelaskan kenapa tagline itu cocok untuk Indonesia di kawasan ASEAN. Deadline: Kamis, 29 Agustus 2013, pukul 08.00 Wib. 

Nah, itu, Sobs! Ada ide? :) Beratkan? Hiks.

Layaknya sebuah produk/pelayanan jasa, maka sebuah negara pun adalah merupakan object pemasaran lho. Banyak hal yang bisa dipasarkan dari sebuah negara, misalnya dalam hal pariwisatanya. Dan layaknya marketing sebuah produk/pelayanan jasa, sudah pasti, memasarkan pariwisata sebuah negeri, juga harus diolah sedemikian rupa, dikemas seindah mungkin, agar bisa menarik minat 'pembeli'nya [pengunjung]. Dan lagi, layaknya sebuah produk/pelayanan jasa, sebuah tagline/slogan pun sudah semestinya direkatkan pada sebuah negeri, untuk memikat daya ingat dan menarik minat para wisatawan untuk mengunjungi dan mengeksplorasi keindahan negeri yang dimaksud.

Sudah umum kita ketahui, bahwa setiap negara memiliki tagline/slogan tersendiri, termasuk juga negara-negara di Asia Tenggara, memiliki tagline masing-masing sebagai pemikat para wisatawan untuk berkunjung ke negerinya. Pernah mendengar tagline-tagline ke sepuluh negera Asean? Termasuk Indonesia? Ha? Belum? Yuk kita intip dulu, sebelum kita beranjak ke pelaksanaan tugas yang berat ini. Hiks.

Taglines Negara-negara Asia Tenggara

Pictures are taken from here

Myanmar Logo, is can not found, it is taken from the here 
Nah, itulah masing-masing slogan yang direkatkan pada ke sepuluh negara anggota Asean.
Dan untuk Asean sendiri, juga ada slogan tersendiri lho, Sobs. Ini dia.

Picture grabbed from here
Tagline atau slogan Asean sebelumnya adalah Asia's Perfect 10 Paradise. Tapi kemudian January 2012 diubah ke Southeast Asia, feel the warmth, seperti yang terlihat pada gambar di atas.

Usulan Tagline untuk Indonesia ke depan.

Ahay.., sampailah kita pada topik yang menjadi tugas utama, setelah dari tadi wara wiri mengenali tagline2 milik negeri-negeri jiran. Ok, aku hanya ingin usulkan sebuah tagline yang menurutku sangat pas untuk menjadi slogan bagi negeri cantik kita ini ke depan. What is that?

Marvelous Indonesia, The Islands of Adventures



Tak ada yang berani membantah bahwa Indonesia diuntai oleh beribu-ribu pulau. Sehingga negeri tercinta ini pun dikenal sebagai negeri kepulauan. #Jadi ingat lagu rayuan pulau kelapa deh ih. Hehe.

Yup, Indonesia adalah sebuah negeri kepulauan. Mulai dari pulau yang besar hingga pulau-pulau kecil yang menyusun negeri ini bak untaian mutiara di garis Khatulistiwa. Dan setiap pulaunya, sudah pasti menjanjikan keindahan dan daya tarik tersendiri untuk dieksplorasi dan dinikmati pesonanya. Menikmati petualangan demi petualangan di pulau-pulau nya yang eksotis adalah daya tarik tersendiri yang dapat dijadikan sebagai selling point dan promosi jitu dalam rangka menarik wisatawan untuk datang, meng-eksplorasi dan menikmati keindahan dan keseruan berpetualang di negeri ini. Bukan begitu, Sobs?

Marvelous Indonesia, The Islands of Adventures. Nikmati petualangan seru di pulau-pulau kami yang cantik dan eksotis!


Rabu, 28 Agustus 2013

Menuju KEA 2015: Yah, namanya juga negeri serumpun!

Picture grabbed from here

Pernah mendengar nama 'Angkor Wat'? Kuyakin, sejak kemarin, pasti banyak netizens/bloggers, terutama yang sedang mengikuti tantangan #10daysforasean sudah mulai bahkan menjadi sangat familiar dengan 'Angkor Wat'. Yup, Angkor Wat adalah sebuah kuil megah milik Kamboja, yang ditengarai memiliki kemiripan relief dengan candi Borobudur, milik Indonesia. Bedanya adalah, Angkor Wat dibangun pada abad ke 12 Masehi, sementara candi Borobudur dibangun sekitar 3 abad [tiga ratus tahun] sebelumnya, yaitu pada abad ke 9 Masehi. Kabarnya lagi nih, kedua candi ini, memiliki arsitek yang sama lho! How can? Kan beda masa pembangunannya saja sampai 300 tahun begitu? Apakah designnya telah dikerjakan terlebih dahulu oleh arsitek yang sama, baru tiga ratus tahun kemudian diimplementasikan ke dalam proses pembangunannya? Hehe. #Ngawur!

Berbicara tentang kemiripan antara negeri-negeri serumpun, kita sudah sering kali mendengarnya. Bahkan bukan hanya dalam bentuk bangunan/arsitektural, bahkan dalam hal budaya, kulinari, fashion/pakaian, dan banyak hal lainnya, ada saja kesamaan/kemiripan antara negeri yang satu dan negeri yang lainnya. Hingga sering pula memicu perdebatan bahkan 'pertengkaran' antar masyarakat negeri-negeri terkait, gegara mempertahankan argumentasi masing-masing, bahwa budaya A, pakaian A, atau hal yang diperdebatkan itu adalah milik/berasal dari negerinya, bukan dari negeri si lawan debat. Ga usah jauh-jauh, bahkan kita pernah merasa begitu jengah dengan 'pertengkaran dasyat' baik di dunia maya mau pun nyata, ketika Indonesia kecolongan sebuah tarian, yang diakui sebagai milik negeri jiran Malaysia. Lalu kita pun marah, kalang kabut dan 'berantem hebat' memperebutkan kembali budaya itu. Banyak lagi hal lainnya, yang terjadi akibat adanya kemiripan-kemiripan dan klaim yang timbul olehnya.

Lalu, timbul pertanyaan, siapa yang salah? Siapa yang telah menjadi 'pencuri'?
Seperti halnya Candi Borobudur dan Angkor Wat ini. Siapa mencuri design siapa? Atau mari kita perhalus, kok bisa ya relief Borobudur memiliki kemiripan dengan Angkor Wat yang berada di Kamboja?
Dan merujuk kepada tantangan hari kedua #10daysforasean, yang bertema;

Menurut penjelasan ahli sejarah, relief Borobudur ada kemiripan dengan Angkor Wat, yang berada di Kamboja. Padahal Borobudur dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat ada. Apakah ini menandakan bahwa negara-negara di Asean itu serumpun? Apa pendapatmu mengenai hal itu?

Jika pertanyaan ini diajukan kepadaku, maka secara gamblang aku akan jawab begini deh Sobs. Iya, ini menandakan bahwa negara-negara di Asean adalah serumpun. Tapi tak hanya itu lho, adanya perjalanan/perpindahan/migrasi antar penduduk, dari negeri yang satu ke negeri yang lainnya, menetap dan beranak pinak di sana, dengan tetap membawa kebudayaan dari negeri asalnya, dan melestarikannya di negeri yang baru, juga menjadi penyebab timbulnya kemiripan budaya, kulinari, pakaian adat dan hal-hal terkait lainnya. Sehingga, jadilah kita menyaksikan budaya kita kok mirip sekali dengan budaya di negeri seberang, misalnya, atau masakan khas kita, kok juga ada di negeri seberang? Dan hal-hal serupa lainnya.

Khusus tentang kesamaan Relief, antara Borobudur dan Angkor Wat, menurutku sih, itu juga tak bisa dipisahkan dari kesamaan kepercayaan yang dianut keduanya. Sehingga, relief-reliefnya juga akan berbicara gambaran hal yang sama, sejarah/hikayat yang sama. Sehingga timbullah kemiripan relief yang menghias kedua candi/kuil tersohor yang sama-sama telah dinobatkan oleh UNESCO sebagai the world's heritage.  Sementara untuk hal design candinya sendiri, jika di lihat-lihat lagi, menurutku Angkor Wat ini malah lebih mirip bangunan Candi Prambanan kan ya, Sobs?

Pictures from here and here
Bagaimana pun,  negeri-negeri Asean adalah negeri-negeri serumpun. Jadi enggak heran dunk jika memiliki banyak kesamaan dalam berbagai bidang. Kemiripan ini, semakin ditambah pula dengan adanya migrasi antar penduduk sejak jaman dahulu, yang membawa budaya asli dan melestarikannya di negeri baru, serta kepercayaan dan implementasi [peribadatan] nya yang ikut memperkaya dan tersebar luaskan pula di negeri baru.

Andai saja, semua kita mampu menyadari kesamaan/kemiripan ini dari sudut pandang seperti itu, mungkin 'pertengkaran' sengit saling menyalahkan, saling merendahkan dan saling-saling negatif lainnya, dapat diminimalisir, karena pada dasarnya, ke sepuluh negara anggota Asean ini adalah bersaudara, serumpun!

Semoga dengan terbentuknya Komunitas Ekonomi Asean 2015 nanti, akan semakin meningkat pula rasa kebersamaan dan persaudaraan antar bangsa, sehingga terbentuk sebuah komunitas yang solid penuh apresiasi dan saling bahu membahu.

Bravo Asean Economic Community!



Selasa, 27 Agustus 2013

Mari Bicara: Bersaing dengan Salon-salon Thailand professional Bersertifikat? Kenapa Tidak?



Bukan tanpa alasan lho, Sobs, jika tiba-tiba gambar berisi kalimat-kalimat di atas tiba-tiba saja menghias tampilan awal artikel ini. J Bagi Sobats yang rajin memantau tagline Asean Economic Community [Komunitas Ekonomi Asean], Asean Member Community [Komunitas Masyarakat Asean], Asean Blogger Community, Asean Blogger Festival, dan berbagai istilah lainnya yang ber-embel2 Asean, tentu Sobats akan ngeh deh, kemana postingan ini akan berlanjut dan bermuara. Hehe.

Yes, bener banget. Diriku sedang ikutan tantangan #10daysforasean, yaitu sebuah lomba menulis di blog selama 10 hari, tentang isu-isu kesiapan Indonesia menghadapi Komunitas Asean 2015, yang diadakan oleh Komunitas Asean Blogger Chapter Indonesia.  Weisss! Keren nih lombanya, dan berat juga ternyata, Sobs! :D

Wait, masih ada yang belum familiar dengan topic berembel-embel Asean Economic Community? Asean Member Community, Asean Blogger Community? Asean bla bla bla? Oops! Kalo Sobats masih berada pada level ini, monggo deh cek and ricek terlebih dahulu ke situs Asean Blogger Community Chapter Indonesia di sini, untuk baca informasi lengkapnya sehingga bisa lebih nyambung dan cepat tanggap menyumbang saran dalam rangka ikutan mensosialisasikan isu-isu terkait. Sebagai netizens, blogger pula, maka kita mempunyai andil besar dalam turut menyebar-luaskan informasi berharga ini lho, Sobs, sehingga masyarakat Indonesia siap sedia dalam menyongsong terbentuknya Komunitas Ekonomi Asean di tahun 2015 nanti.

Well, back to the theme of the challenge,

Bagaimana kalau di sekitar perumahanmu banyak berdiri salon-salon Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat internasional, apakah itu akan menggeser salon lokal? Apa analisamu?"  

Hm, menurutku sih, kehadiran salon-salon Thailand ini TIDAK akan membuat kelangsungan hidup usaha salon lokal bergeser dan surut sih, SEJAUH si salon lokal aware untuk tetap menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan. Quality Control is the key of business sustainability.

Analisanya begini nih, Sobs.

Setiap produk atau pelayanan jasa, kan memiliki pangsa pasar tersendiri tuh. Ada yang suka produk/pelayanan dalam negeri - warisan leluhur, ada pula yang cinta/sangat menikmati sentuhan layanan ala negeri lain. Ala Thai, misalnya. Tapi, sekali lagi, aku ingin katakan bahwa hal ini TIDAK akan membuat kelangsungan hidup usaha salon lokal bergeser dan surut sih, SEJAUH si salon lokal aware untuk tetap menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan. Quality Control is the key of business sustainability. Tentu saja menjaga mutu pelayanan saja tidak cukup sih, Sobs! Tapi si pemilik juga harus memperhatikan elemen/variabel lainnya dalam mempertahankan bahkan meningkatkan omzet usahanya. Apa sajakah elemen/variabel itu?

1. Quality Control [Menjaga Mutu]

Ini adalah variable pertama yang harus diperhatikan. Baik mutu produk yang digunakan mau pun mutu services/layanan yang diberikan. Jangan mentang-mentang sudah laris manis, sudah mampu memikat hati customer, lalu demi memperbesar margin/keuntungan, si salon lokal mulai deh mengurangi/memperkecil quantiti/volume produk yang harus dipakai untuk perawatan customernya. Jangan pula mentang-mentang sudah laris manis, dan yakin bahwa customer sudah cinta mati dengan treatment di salonnya, maka kualitas layanan, sikap dan professionalitas para therapist nya, tak lagi menjadi tuntutan. Memberikan pelayanan professional dengan bahan/produk-produk andalan berkualitas, adalah kunci utama suksesnya mempertahankan loyalitas para pelanggan lho.

2. Innovasi, Improvisasi dan 'kemasan' penyajian [Packaging].

Ini adalah variabel kedua yang tak kalah pentingnya. Mengapa? Karena roda zaman tak pernah berhenti. Terus saja berputar dengan aneka perubahan dan kemajuan yang tersaji di setiap gelinding 'roda'nya. Sedikit saja lengah, maka dijamin, kita akan tertinggal, setidaknya ketinggalan berita. Begitu juga dengan salon-salon lokal. Indonesia memiliki warisan budaya leluhur dalam berbagai hal. Termasuk dalam hal perawatan tubuh, wajah, rambut bahkan the treatment for inner beauty. Kita memiliki semua itu. Tinggal bagaimana kreatifitas dan inovasi para pemilik salon lokal ini meningkatkan, memodifikasi tanpa meninggalkan kearifan lokal dan semakin memperkenalkannya pada dunia. Percaya deh, perawatan ala Raja-raja di Nusantara, akan terdengar eksotik dan seksi serta mampu menyedot customer dalam dan luar negeri, jika si salon lokal ini mampu mengolah dan menyajikannya secara profesional.

Salah satu ruang treatment di D'Padjadjaran Spa,
Gambar diambil dari Blog My Virtual Corner, Milik Alaika Abdullah. 

3. Jangan Pelit untuk Biaya Educate Staff dan Promosi

Nah, ini menyangkut rupiah/duit. Yang biasanya akan membuat si pemilik akan berfikir dua tiga kali, dengan mengulang dan ulang lagi pertanyaan 'perlu enggak ya?'.

Perlu enggak ya mengeluarkan biaya untuk upgrade knowledge dan skill [training] para staff?
Perlu enggak ya mengeluarkan duit untuk biaya promosi salon ini? Kan udah cukup rame dan terkenal?

Jika pertanyaan ini masih saja diulang-ulang dan selalu menghasilkan jawaban 'ah, ntar aja deh', maka dijamin, si salon lokal ini tinggal menghitung hari untuk tutup buku. Namun, jika dia bijak menyikapi kepentingan ini, maka percaya deh, setiap rupiah yang dia keluarkan itu, akan kembali dengan membawa 'teman-teman'nya lho. Akan kembali dalam jumlah yang berlipat. Ya kan, Sobs?

Jadi, menurutku nih, Sobs, menjawab pertanyaan dalam tema di atas, tak ada yang perlu dikuatirkan dengan kehadiran salon-salon Thailan profesional bersertifikat itu, sambut mereka dengan bijak, jadikan mereka sebagai pemacu semangat berkompetisi dan juga monitoring tools bagi lajunya usaha salon lokal anda. Terbentuknya Komunitas Ekonomi Asean 2015 nanti, berarti terbuka pula peluang anda untuk expand ke luar negeri [anggota Asean lho], jadi bersiaplah untuk mengembangkan sayap, menjangkau titik-titik pelayanan yang lebih luas. Be optimistic! Nothing to be worried, jika persiapan menuju medan perang telah lengkap dan siaga.


Featured Post

Ayam Tangkap Khas Aceh ala So Good

Yuhuu, akhirnya, Ayam Tangkap Khas Aceh ala So Good siap dihidangkan! Bagi yang sering main ke Aceh, khususnya Banda Aceh, pasti sudah fa...

Popular Posts