Mari Bicara: Bersaing dengan Salon-salon Thailand professional Bersertifikat? Kenapa Tidak?



Bukan tanpa alasan lho, Sobs, jika tiba-tiba gambar berisi kalimat-kalimat di atas tiba-tiba saja menghias tampilan awal artikel ini. J Bagi Sobats yang rajin memantau tagline Asean Economic Community [Komunitas Ekonomi Asean], Asean Member Community [Komunitas Masyarakat Asean], Asean Blogger Community, Asean Blogger Festival, dan berbagai istilah lainnya yang ber-embel2 Asean, tentu Sobats akan ngeh deh, kemana postingan ini akan berlanjut dan bermuara. Hehe.

Yes, bener banget. Diriku sedang ikutan tantangan #10daysforasean, yaitu sebuah lomba menulis di blog selama 10 hari, tentang isu-isu kesiapan Indonesia menghadapi Komunitas Asean 2015, yang diadakan oleh Komunitas Asean Blogger Chapter Indonesia.  Weisss! Keren nih lombanya, dan berat juga ternyata, Sobs! :D

Wait, masih ada yang belum familiar dengan topic berembel-embel Asean Economic Community? Asean Member Community, Asean Blogger Community? Asean bla bla bla? Oops! Kalo Sobats masih berada pada level ini, monggo deh cek and ricek terlebih dahulu ke situs Asean Blogger Community Chapter Indonesia di sini, untuk baca informasi lengkapnya sehingga bisa lebih nyambung dan cepat tanggap menyumbang saran dalam rangka ikutan mensosialisasikan isu-isu terkait. Sebagai netizens, blogger pula, maka kita mempunyai andil besar dalam turut menyebar-luaskan informasi berharga ini lho, Sobs, sehingga masyarakat Indonesia siap sedia dalam menyongsong terbentuknya Komunitas Ekonomi Asean di tahun 2015 nanti.

Well, back to the theme of the challenge,

Bagaimana kalau di sekitar perumahanmu banyak berdiri salon-salon Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat internasional, apakah itu akan menggeser salon lokal? Apa analisamu?"  

Hm, menurutku sih, kehadiran salon-salon Thailand ini TIDAK akan membuat kelangsungan hidup usaha salon lokal bergeser dan surut sih, SEJAUH si salon lokal aware untuk tetap menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan. Quality Control is the key of business sustainability.

Analisanya begini nih, Sobs.

Setiap produk atau pelayanan jasa, kan memiliki pangsa pasar tersendiri tuh. Ada yang suka produk/pelayanan dalam negeri - warisan leluhur, ada pula yang cinta/sangat menikmati sentuhan layanan ala negeri lain. Ala Thai, misalnya. Tapi, sekali lagi, aku ingin katakan bahwa hal ini TIDAK akan membuat kelangsungan hidup usaha salon lokal bergeser dan surut sih, SEJAUH si salon lokal aware untuk tetap menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan. Quality Control is the key of business sustainability. Tentu saja menjaga mutu pelayanan saja tidak cukup sih, Sobs! Tapi si pemilik juga harus memperhatikan elemen/variabel lainnya dalam mempertahankan bahkan meningkatkan omzet usahanya. Apa sajakah elemen/variabel itu?

1. Quality Control [Menjaga Mutu]

Ini adalah variable pertama yang harus diperhatikan. Baik mutu produk yang digunakan mau pun mutu services/layanan yang diberikan. Jangan mentang-mentang sudah laris manis, sudah mampu memikat hati customer, lalu demi memperbesar margin/keuntungan, si salon lokal mulai deh mengurangi/memperkecil quantiti/volume produk yang harus dipakai untuk perawatan customernya. Jangan pula mentang-mentang sudah laris manis, dan yakin bahwa customer sudah cinta mati dengan treatment di salonnya, maka kualitas layanan, sikap dan professionalitas para therapist nya, tak lagi menjadi tuntutan. Memberikan pelayanan professional dengan bahan/produk-produk andalan berkualitas, adalah kunci utama suksesnya mempertahankan loyalitas para pelanggan lho.

2. Innovasi, Improvisasi dan 'kemasan' penyajian [Packaging].

Ini adalah variabel kedua yang tak kalah pentingnya. Mengapa? Karena roda zaman tak pernah berhenti. Terus saja berputar dengan aneka perubahan dan kemajuan yang tersaji di setiap gelinding 'roda'nya. Sedikit saja lengah, maka dijamin, kita akan tertinggal, setidaknya ketinggalan berita. Begitu juga dengan salon-salon lokal. Indonesia memiliki warisan budaya leluhur dalam berbagai hal. Termasuk dalam hal perawatan tubuh, wajah, rambut bahkan the treatment for inner beauty. Kita memiliki semua itu. Tinggal bagaimana kreatifitas dan inovasi para pemilik salon lokal ini meningkatkan, memodifikasi tanpa meninggalkan kearifan lokal dan semakin memperkenalkannya pada dunia. Percaya deh, perawatan ala Raja-raja di Nusantara, akan terdengar eksotik dan seksi serta mampu menyedot customer dalam dan luar negeri, jika si salon lokal ini mampu mengolah dan menyajikannya secara profesional.

Salah satu ruang treatment di D'Padjadjaran Spa,
Gambar diambil dari Blog My Virtual Corner, Milik Alaika Abdullah. 

3. Jangan Pelit untuk Biaya Educate Staff dan Promosi

Nah, ini menyangkut rupiah/duit. Yang biasanya akan membuat si pemilik akan berfikir dua tiga kali, dengan mengulang dan ulang lagi pertanyaan 'perlu enggak ya?'.

Perlu enggak ya mengeluarkan biaya untuk upgrade knowledge dan skill [training] para staff?
Perlu enggak ya mengeluarkan duit untuk biaya promosi salon ini? Kan udah cukup rame dan terkenal?

Jika pertanyaan ini masih saja diulang-ulang dan selalu menghasilkan jawaban 'ah, ntar aja deh', maka dijamin, si salon lokal ini tinggal menghitung hari untuk tutup buku. Namun, jika dia bijak menyikapi kepentingan ini, maka percaya deh, setiap rupiah yang dia keluarkan itu, akan kembali dengan membawa 'teman-teman'nya lho. Akan kembali dalam jumlah yang berlipat. Ya kan, Sobs?

Jadi, menurutku nih, Sobs, menjawab pertanyaan dalam tema di atas, tak ada yang perlu dikuatirkan dengan kehadiran salon-salon Thailan profesional bersertifikat itu, sambut mereka dengan bijak, jadikan mereka sebagai pemacu semangat berkompetisi dan juga monitoring tools bagi lajunya usaha salon lokal anda. Terbentuknya Komunitas Ekonomi Asean 2015 nanti, berarti terbuka pula peluang anda untuk expand ke luar negeri [anggota Asean lho], jadi bersiaplah untuk mengembangkan sayap, menjangkau titik-titik pelayanan yang lebih luas. Be optimistic! Nothing to be worried, jika persiapan menuju medan perang telah lengkap dan siaga.


Komentar

  1. Sekarang berjamuran jasa Salon dari manca negara (regional Asean) ya, apakah kita akan jadi tamu di negeri sendiri? Kemampuan / kompetensi orang Indonesia akan semakin teruji nih. Semoga kita tidak menjadi tamu di negeri sendiri ya mbak.

    Kebutuhan biaya untuk upgrade knowledge, adalah sebuah konsekuensi logis bagi pengembangan organisasi bisnis. Organisasi bisnis juga harus menyediakan alokasi biaya bagi pengembangan skill bagi karyawannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Mas, semoga kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan mitra yang handal di negeri jiran. :)

      Bener banget, biaya utk training staff dan promosi, adalah biaya mutlak yang perlu dicanangkan utk kemajuan sebuah usaha. Sygnya, banyak yang belum menyadari akan hal ini. :)

      Hapus
  2. miss misss u ciiiiin.......keep writing

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidur dengan lampu yang menyala terang? BAHAYA BANGET!!

Khasiat dan Bahayanya Bunga Terompet Bidadari

Hindari Bayi & Batita Anda dari Guncangan, WALAU GEMES SEKALIPUN!