Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 06 Juli 2013

Mampukah Kita Memaafkan

Posted by Alaika Abdullah On 22.57
Judul postingan ini, sama persis dengan judul tulisanku yang mejeng di Media Rabbani, saat Ramadhan tahun lalu. Kala itu, Mas Insan, pemilik Media Rabbani, mengundang penulis tamu, untuk menulis artikel related to Ramadhan untuk ditayangkan di rumah mayanya. Dan, artikel dengan judul di ataslah yang aku sumbangkan untuk memeriahkan perhelatannya Mas Insan.

Lalu kenapa sekarang, kamu malah menulis artikel dengan judul yang sama, di blog ini, Al?
Eits, jangan salah lho, Sobs. Bukan hanya judulnya yang sama, tapi aku berniat untuk menulis ulang seluruh artikel itu di halaman ini! Mengapa? Copy Paste donk itu? Hehe.

Hm, memang sih, udah jelas itu adalah copy paste, tapi yang aku copas adalah tulisanku sendiri, yang ingin aku jadikan catatan online, yang tentunya akan bermanfaat pula bagiku dan para pembaca halaman maya ini. Boleh dunk?

Tinggal menghitung waktu, dan Ramadhan pun telah di depan pintu.  Tak pelak, ada bahagia yang mengintip di sanubari, untuk menyambut kehadirannya di tahun ini. Harapan pun terpatri, agar amal ibadah puasa Ramadhan tahun ini, menjadi lebih baik dari tahun tahun lalu. Bukan begitu, Sobs?


Sebagai manusia biasa, melakukan kesalahan memang lazim adanya. Toh tak ada manusia yang sempurna kan? Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. There is nobody perfect. Maka wajar dong jika kebiasaan mengirimkan dan mendapatkan ucapan-ucapan menyambut datangnya bulan penuh berkah Ramadhan, baik via sms, telepon, jejaring social di dunia maya atau pun media lainnya, yang mengandung pesan untuk saling memaafkan, menjadi begitu membudaya di era kecanggihan teknologi ini. 

Pucuk selasih bertunas menjulang, Dahannya patah tolong betulkan
Puasa Ramadhan kembali datang, Salah dan khilaf mohon maafkan
Marhaban ya Ramadhan..
Selamat Menunaikan Ibadah puasa…

Pasti sobats pernah mendapatkan atau mengirimkan ucapan bernada serupa kan? J
Lalu apakah itu salah? Oh, tentu tidak, Sobs. Sama sekali tidak. Justru menurutku sih bagus banget malah. Sebagai sebuah bulan yang paling disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, di antara bulan-bulan lainnya, adalah sudah sepantasnya jika kita memulai dari diri sendiri terlebih dahulu, membersihkan diri sendiri sebelum melaksanakan ibadah khusus di bulan nan suci ini. Sepakat kan, Sobs? Dan salah satu cara menyucikan diri itu tentu saja dengan saling meminta maaf/memaafkan kepada sesama, yang mungkin saja dalam perjalanan kehidupan ini, hatinya telah kita sakiti, baik dengan sengaja atau tanpa kita sadari.
Persoalan empat huruf ini, baik meminta ‘maaf’ dan me’maaf’kan, memang, terkadang lebih kepada masalah hati ketimbang lidah. Adalah normal, ketika ada sebuah kesalahan, lisan kita secara langsung meminta maaf dan mengakui kesalahan itu. Atau kala dimintai maaf, maka tanpa menunggu waktu lidah berujar bahwa kita telah berlapang dada untuk memaafkan. Namun tidak dengan hati, terkadang ada yang membakar. Ada yang mengompori.
Sebagai insan biasa, mungkin kita pernah dihadapkan pada situasi menyakitkan dalam rangka memaafkan seseorang. Ingin memaafkannya sih, tapi hati kok ndak rela gitu lho. Apalagi mengingat kesalahan yang dilakukannya sudah bertubi-tubi, dan celakanya lagi, adalah kesalahan yang sama! Sehingga terkesan seolah dia memang sengaja mengulangnya karena yakin persediaan maaf kita masih segudang. Atau Sobats pernah mengalami hal serupa yang sedikit berbeda atau lebih parah dari ini? 
Lalu bagaimana membujuk hati untuk tulus mengeluarkan ‘maaf’, yang akhirnya juga tentu saja akan membuat kita ikutan bernapas lega dan ringan dalam menjalankan langkah kehidupan kita ke depan? Percaya kan, Sobs dengan kalimat ini? 
“Dendam atau sakit hati yang dipendam, justru akan semakin membuat langkahmu berat dalam menapaki kehidupan?”
Hm, wajar jika Sobats tak dapat langsung menjawab, karena aku juga mengalami hal yang sama kala pertanyaan ini dihunjamkan ke benakku, Sobs. Dan untuk membantu menjawabnya, yuk kita ikuti cerita inspiratif berikut ini….

***
Di sebuah pesantren di negeri antah berantah…
Pada suatu hari, seorang Kyai meminta para muridnya untuk membawa sekantong plastik berisi kentang. Kentang-kentang itu nantinya akan dituliskan nama-nama orang yang telah menyakiti mereka dan belum bisa mereka maafkan. Maka para murid pun menuliskan (dengan geram) setiap satu kentang dengan satu nama yang mereka benci/tidak mereka maafkan karena telah menyakiti mereka. 

Beberapa murid memasukkan sedikit kentang, namun sebagian memiliki banyak. Mereka harus membawa kentang dalam kantong itu kemana pun mereka pergi dan tak boleh jauh dari mereka, apa pun yang terjadi.

Semakin hari, semakin banyak murid yang mengeluh karena kentang-kentang itu mulai mengeluarkan aroma busuk.
“Apakah kalian sudah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada kulit kentang kalian?” tanya sang kyai.
Gelengan kepala para murid jelas menunjukkan bahwa mereka sepakat untuk belum bisa memaafkan nama-nama itu, sehingga sang kyai hanya mampu berkata,
“Yah, kalau begitu, kalian tetap harus membawa kentang itu kemana pun kalian pergi,” lanjutnya.
Hari-hari pun berlalu. Aroma tak sedap dari kentang-kentang itu pun semakin menjadi. Banyak dari mereka akhirnya menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya. Hingga pada akhirnya, mereka membuang kentang-kentang itu ke dalam tempat sampah. Mereka pun memutuskan untuk juga membuang rasa dendam dan memaafkan orang-orang yang namanya tertulis disana.

Sang kyai tersenyum memandang anak didiknya dan berkata.
“Dendam yang kalian tanam serupa dengan kentang-kentang itu. Semakin banyak kalian mendendam, semakin berat kalian melangkah. Dan semakin hari, dendam-dendam itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian.”
“Maafkan mereka yang pernah menyakiti hati kalian. Jadikan ini sebagai pelajaran dalam hidup. Dan kalian sudah tahu, dendam sama seperti kentang-kentang busuk yang bisa dengan mudah kalian buang ke tempat sampah,” lanjutnya.

Sekalipun dendam tidak kita rasakan beratnya secara fisik, namun secara perlahan akan melemahkan mental kita. Yang pada akhirnya membuat hidup kita tak nyaman.

Sobats maya tercinta, menjelang kehadiran sang bulan suci penuh pengampunan, yuk kita mulai dengan saling memaafkan, setulus hati seikhlas jiwa, Marhaban Yaa Ramadhan, Selamat menyambut dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan, Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi kita peluang untuk mengisi Ramadhan dengan penuh keimanan dan ketaqwaan.  Amin Ya Rabbal Alamin.

Sebuah catatan pembelajaran, dalam rangka menjadi pribadi yang berjiwa sehat dan ikhlas.
Al, Bandung, 5 Juli 2013

15 komentar:

  1. Mbak Alaika, aku juga mengucapkan hal yang sama. Mohon maaf atas segala salah khilaf selama ini, tulus ikhlas ini aku sampaikan kepada dirimu. Semoga kita mendapatkan ridha dari Allah atas segala ibadah yang kita kerjakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 Mbak, aku juga mohon maaf atas salah kata dan sikap serta polah yang kurang berkenan di hatimu selama ini yaaa. :)
      Yuk jelang Ramadhan dengan penuh suka cita yuk. :)

      Hapus
  2. Bener bgt tuh, mba...dendam memang membuat kita lemah. Kmrn aku bikin postingan ttg cara mengikis dendam, yg sebenernya emang ditujukan buat aku sendiri yg msh menyimpan dendam dg seseorang (nyurhat deh:p). Ya, dg dtgnya bln Ramadhan memaksa aku untuk mampu mengikis rasa itu, biar ringan langkahnya...:)
    Aku jg mau ngucapin Maaf lahir batin ya, mba srikandi.

    BalasHapus
  3. Wah artikelnya emang sangat menyentuh sekali, yaaap mbaa berusaha untuk berdamai dengan diri dan berbesar hati memaafkan. Ikutan ngucapain mhn maaf lahir batin yaaa, semoga selalu dimudahkan untuk segalanya :)

    BalasHapus
  4. Setuju, dendam bisa menyebabkan kita malah yang menderita, karena mendendam sama saja dengan menumpuk sampah di dalam hati. bisa menyebabkan berbagai macam penyakit

    BalasHapus
  5. Suatu kebanggaan Media Robbani pernah disinggahi tulisan indah nan inspiratif ini.

    Terimakasih mbak Al..

    Selamat menyambut dan menjalankan ibadah Puasa dibulan Ramadhan, semoga Ramadhan ini dijadikan sarana melatih moralitas yang besar dan dapat dijadikan sarana latihan untuk menempa berbagai macam sifat terpuji

    BalasHapus
  6. sama-sama ya mbak Al,.. semoga kita menjadi insan yang lebih baik dan istiqomah :D

    BalasHapus
  7. “Dendam atau sakit hati yang dipendam, justru akan semakin membuat langkahmu berat dalam menapaki kehidupan?”

    Terus terang gue bingung, apakah kalimat di atas adalah kalimat pertanyaan? Hehe.. So, makanya gue bingung mo ngejawab apaan! :-)

    Overall, maapin gue juga ya Al! Atas apa pun dari gue yg bikin elo sakit, ilfil, benci dsb. Baik itu dalam tulisan, perbuatan, komentar maupun percakapan.

    Tentunya kita berharap Ramadhan tahun ini adalah yg terbaik dalam kehidupan kita! ^_^

    BalasHapus
  8. Mohon maaf lahir dan batin ya Mba, Dan selamat menjalan ibadah puasa, semoga kita selalu diberikan kelancaran dalam beribadah di bulan suci Ramadhon ini dan mendapatkan ke barokahan. Amiiiiin.........


    Salam wisata

    BalasHapus
  9. salah satu cara menyucikan diri itu tentu saja dengan saling meminta maaf/memaafkan kepada sesama

    BalasHapus
  10. Aroma tak sedap dari kentang-kentang itu pun semakin menjadi. Banyak dari mereka akhirnya menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya.

    BalasHapus