Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 19 Juni 2013

Menyemai Cinta Ala LDR

Posted by Alaika Abdullah On 02.01

Menyemai Cinta Ala LDR
Postingan ini terinspirasi dari postingannya Pakdhe Cholik, yang bercerita tentang pengalamannya ber-long distance relationship [LDR] dengan sang istri dan keluarga tercinta.
LDR, mungkin sudah begitu familiar terdengar di telinga kita ya, Sobs? Dan banyak lho yang mengalaminya? Ada yang mengaku sulit menjalaninya, bahkan saking takutnya akan efek ber-long distance relationship ini, mereka memilih untuk resign dari pekerjaan dan ikut sang suami agar tak berjauhan. :) Namun, sudah pasti, ada yang menghadapinya dengan gagah berani [karena ga punya pilihan lain lah pastinya, hehe].

Selain Pakdhe Cholik, yang sudah menjalaninya, aku juga memiliki beberapa teman yang terpaksa menjalani hubungan jarak jauh dengan keluarganya. Banyak suka dan duka yang mengisi hari-hari selama ber-long distance ria ini lho. Dan kali ini, tulisan ini bukanlah untuk mengupas pahit-manis kisah LDR mereka sih, Sobs, karena selain mereka, aku sendiri juga adalah pelaku LDR!

Credit and modified
Long Distance Relationship, menyapa dan menjadi pilihan tak terelakkan bagi kami [aku dan suami] terhadap Intan, putri kami, pertama kalinya sekitar tahun 2005, dimana aku dan suami harus pindah ke Aceh, beberapa hari setelah tsunami. Tanah kelahiran yang luluh lantak, dan membuat masyarakat/penduduknya terdampar dalam luka-duka nestapa, mutlak membuat jiwa ini terpanggil untuk turut bergabung dengan sebuah Medical NGO International yang sedang bantu Aceh kala itu. Tanpa pikir panjang lagi, kutitipkan Intan, putri tercinta, pada budhenya [kakak ipar] di Medan, lalu kami [aku dan suami] menetap di Aceh.

Rindu yang membiru, haru yang menggebu, sungguh membuat hati terasa pilu. Rasanya gimanaaaa gitu, Sobs! Meninggalkan putri tercinta, nun jauh di kota Medan. Mana belum pernah tinggal terpisah sebelumnya lagi! Duh, rasanya ingin banget deh segera menyelesaikan tugas ini, dan bergabung kembali dengan ananda tercinta. Atau kalo bisa, Aceh segera bersih, aman dan sehat kembali agar aku bisa membawa Intan bersama kami. Namun semua tentu butuh proses, sehingga jalan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah, beradaptasi terhadap keadaan yang kita hadapi.

Menyiasatinya adalah, melakukan panggilan telefon dan mendongeng setiap malam menjelang tidur. Jika selama ini, mendongeng [baca: membacakan sebuah cerita anak] kulakukan seraya mengelus-ngelus punggung Intan, maka sejak terpisah jarak yang begitu jauh, elusan di punggung itu terpaksa ditiadakan. Hanyalah modulasi yang meretas jarak, menghubungkan aku ke putri tercinta, yang berbaring sendirian di kamarnya di Medan, seraya memeluk boneka Mickey Mouse kesayangan kami berdua. Setiap dongeng mencapai akhir, maka membaca doa tidur bersama pun menjadi agenda penutup komunikasi kami setiap malamnya. Tak hanya itu, Intan yang kala itu masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar, selalu mengandalkan Uminya dalam hal membantunya mengerjakan PR bahasa Inggris, sehingga, mau tak mau, aku harus menyediakan waktu untuk bikin PR bersama, tentunya via telefon.

Untungnya ritual di atas hanya berlangsung selama dua setengah tahunan, karena begitu situasi Aceh aman dan bersih kembali, aku segera menjemput Intan untuk dapat tinggal bersama lagi. Namun sayang, Long Distance Relationship, kembali menjadi pilihan yang sulit dielakkan. Keinginan untuk mendapatkan penghidupan yang jauh lebih baik, membuat kami berkomitmen untuk tinggal terpisah oleh jarak dan garis batas [beda negara]. Kuijinkan kekasih hati [baca: suami] untuk bekerja di negeri jiran. Tentu dengan komitmen dan kesepakatan bersama, yang akan kami jaga utuh demi kebahagiaan rumah tangga ini. Long Distance Relationship! Tak ada yang akan mengatakan ini sebagai kehidupan yang mudah. Untungnya, kemajuan teknologi yang kian canggih, memberi banyak kemudahan bagi insan-insan yang harus ber-long distance relationship. Thanks to the technology, yang telah meretas jarak, menembus garis batas dan mampu menghadirkan aku di layar gadgetnya, atau menghadirkan dia di layar gadgetku, sehingga kami dapat saling berkomunikasi secara audio visual. Rasanya luar biasa banget lho!

Bicara tentang LDR, tak dapat dipungkiri bahwa hubungan jarak jauh ini dapat memicu banyak hal yang dapat menguji keharmonisan hubungan. Yang jika gagal dalam menyikapinya, akan membawa hubungan antar pasangan menjadi buruk dan bahkan berakhir sia-sia.
Oleh karena itu pula, sebagai pelaku LDR, aku selalu berusaha untuk menjalankan beberapa tips penting berikut ini;

1. Saling Percaya.

Poin ini sengaja aku terapkan pada urutan pertama. Karena ini adalah poin utama dalam merawat kasih sayang dalam hubungan antar pasangan. Tanpa kepercayaan, maka kita akan selalu dipenuhi oleh rasa curiga dan aneka pikiran negatif lainnya, yang sudah pasti akan memicu pertengkaran dan menjadikan hubungan menjadi tidak harmonis.

2. Komitmen

Ini juga tak kalah pentingnya. Karena poin ini juga adalah kunci keberhasilan langgengnya sebuah hubungan, apalagi hubungan jarak jauh. Kedua belah pihak harus komit untuk menjaga kepercayaan dan segala aturan yang telah disepakati. Komit untuk menjaga ikrar pernikahan, artinya kita sepakat untuk saling setia, untuk saling menghargai, menghormati dan menjaga nilai suci pernikahan.


3. Komunikasi yang Teratur dan Jujur

Atur komunikasi sedemikian rupa, tanpa harus mengganggu aktivitas masing-masing. Selalu berusaha untuk update informasi, sehingga si dia merasa terlibat dalam setiap kegiatan penting yang sedang berlangsung. Hal ini akan membuat dirinya merasa seolah berada di antara kita [orang-orang yang dicintainya]. Kami biasanya menggunakan Skype untuk komunikasi secara audio-visual. Selain suara yang bening, biasanya visual look-nya juga oke banget tuh. Jadi serasa si dia berada di depan mata gitu lho. :)

4. Atur Jadwal Kunjungan

Nah, ini juga sangat penting. Walau teknologi telah demikian canggih, di mana kita sudah dapat berkomunikasi secara audio visual dengan sang kekasih hati, namun kehadirannya secara nyata, tentulah sebuah kebutuhan. Untuk itu, skedulkan rencana kunjungan secara berkala, agar kebersamaan dapat terasa nyata, dan menyegarkan kembali hubungan yang telah terentang oleh jarak selama ini.


5. Persiapkan Kejutan-kejutan kecil/Surprise bagi pasangan.

Hal ini, diperlukan untuk menumbuhkan dan memupuk kembali bunga-bunga cinta. Misalnya, muncul mendadak [kunjungan di luar dugaan], itu tentu akan menjadi surprise yang menyenangkan bagi suami atau istri. Tentunya sebelum mengadakan kunjungan dadakan ini, terlebih dahulu harus memastikan apakah si istri atau suami berada di tempat atau tidak. Jadi, tetap harus dicek terlebih dahulu agar kejutan ini tidak berakhir sia-sia. Atau, mengirimkan bunga digital via email, disertai sapaan selamat pagi atau sapaan-sapaan manis lainnya.

Well, Sobats, semoga sharing ini dapat memperkaya khasanah tips dalam berhubungan jarak jauh bagi pasangan-pasangan yang sedang berada dalam situasi ini, yaaa. Semoga bermanfaat!


Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka 

27 komentar:

  1. Aku belum bisa membayangkan kalau harus berLDR dengan suami. Makanya suka salut dengan teman2 yang mampu menjalaninya dengan baik.

    Makasih partisipasinya ya cantik, sudah aku catat sebagai peserta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah difollow, gan, folback blog my give awayku dong. hahaha...

      Hapus
  2. nice info gan, hihihih ...

    idem sama mbak Niken, ngga bisa ngebayangin kalau harus ber LDR. Sekarang aja, kalau suami pulang rada malem, fauzan bolak balik menelpon. Emaknya jadi ikut senewen :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, trims atas kunjungannya, Gan! :P

      Hehe, LDR itu kalo udah dijalanin asyik jg kok, Teh! #Menghibur diri. :D

      Hapus
  3. Saya pernah LDR dengan suami karena kewalahan mengurus bayi anak pertama seorang diri di Kalimantan tanpa art. Saya 'dipulangkan' ke rumah mertua di Bogor. Beruntung kami hanya berpisah selama 3 bulan saja karena suami dipindah tugaskan ke pulau Jawa. Jujur saya tidak kuat dan tidak bisa hidup berjauhan dengan suami, hehe
    Ijin follow blognya, ya, Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, emang LDR itu butuh segala daya upaya untuk bisa eksis, Mak. Ga gampang. :)
      Untung dirimu segera bisa bersatu kembali dengan sang kekasih hati ya, Mak. :)

      Hapus
  4. Aku dua kali LDR mak, dan alhamdulillah baik baik aja. tulisanmu seallalu keren mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku masih LDR sampai saat ini, Mak. Tak hanya LDR dua arah, tapi LDRnya dalam tiga sudut. Aku, suami, dan Intan. segita sama kaki deh ini. Haha. Tapi so far so good kok. Semoga ke depannya juga akan baik2 saja, walau tak bisa dipungkiri, bahwa gelombang dalam kehidupan berumah tangga ini ada pasang naik dan ada pasang surutnya. :)

      Hapus
  5. Dulu, engga pernah membayangkan bakalan LDR sejauh ini sama suami. Awalnya memang terasa sulit. Meskipun terus berusaha menjaga hubungan kami tetap baik, tak bs dihindari, kerikil pun sempat mampir dalam kehidupan kami, tapi dari situ justru kami semakin belajar, bahwa dimanapun berada, cobaan itu pasti ada, tergantung kitanya... apakah mampu menghadapi dan menyelesaikannya. Nice sharing mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata, tak ada pilihan lain selain bersiap menghadapi dan menyikapinya dengan bijak ya, Mak? :)
      Semoga kita akan selalu termasuk ke dalam orang2 yang mampu menjalani LDR ini dengan baik dan bahagia ya, Mak. :)

      Hapus
  6. Salut bagi para "pelaku" LDR, kalian hebat.. aku ga kepikiran, atau mungkin belum, tapi mudah2an enggak sampai harus LDR-an dengan suami mak.

    Tapi dengan membaca kisah2 para emaks yg LDR-an dg sang kekasih hati (baca:suami), aku semakin mengerti, jarak itu bukan kendala selama hati masih menyatu. #asik

    Sukses GA-nya ya Maaaak, tulisannya twothumbs up!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan bantuan teknologi informasi yang demikian maju, LDR tak lagi sesulit dulu kok, Mak. Pinter2 kitanya aja menyikapi dan memanfaatkan segala tools yang ada. Hanya kemauan dan komitmen untuk tetap eksislah, yang akan memberi kita semangat dan kebahagiaan dalam menjalani LDR ini. So, bagi pelaku LDR, ayo semangat atuh! :)

      Hapus
  7. jadi inget dulu pernah LDR hehe alhamdulillah sekarang sudah bisa 1 rumah :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jika skrg udh bisa serumah ya, Mak, pasti bahagia deh rasanya. :)

      Hapus
  8. Di lingkungan kerjaku banyak teman2ku yg hrs menjalani LDR. Konsekuensi sbg abdi negara yg disumpah hrs sanggup dit4kan dmn saja. Dan tidak menutup kemungkinan aku bakal mengalaminya. Tp sejauh ini aku slalu belajar dr mrka yg mejlni LDR. Banyak yg menjalani dgn mulus, tp ada pula yg tidak. Semua kembali kpd yg menjalani. Makasih ya mak tips2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Mak. Kita harus siap sedia menjalani apapun pilihan yang tersaji d depan mata. Karena pada kenyataaannya, kehidupan ini tak banyak menyisakan pilihan. Tak banyak pilihan yang bisa kita pilih sesuai dengan selera kita, sehingga kebijaksanaan dan kedewasaan bersikaplah yang harus kita siasati agar kita tetap dapat menikmati indahnya kehidupan. :)

      Hapus
  9. pertama kali mampir mbak, salam kenal ya..
    baca postingan mbak, jadi inget mama, alhamdulillah pun mama orangnya bukan tipe2 yg manja, ini keliat pas mama mengandung adek aku, mama ngelahirin sendiri, bapak pas itu lagi tugas, tapi salut buat mama yg tetep bertahan, karena sekarang ini banyak pula wanita yg masih mempertahankan ego, ingin suami selalu sedia setiap saat *rexona kali*
    sampai sekarang pun disaat anak2nya ini udah gedhe, bpk masih dinas, dan skg di Papua. tiap kali tanya mama, emang g pgn bapak disini? mama cuma bilang, udah g jamannya lagi mama egois, skg yg harus didahulukan itu anak2nya supaya bisa lebih dari orang tuanya.

    BalasHapus
  10. sebagai sesama pelaku LDR, tips2nya emang bener banget Mbak
    Kepercayaan emang yg teratas ya
    Hmm...sepertinya harus cari tema lain nih untuk GA Bunda Lahfy :)

    BalasHapus
  11. iyaa mbak al, namanya komunikasi itu penting banget kalau LDR, heemm ldr kalau niar yang ldr harus saling2 percaya neh :D

    Sukses yaa mbak al :D

    BalasHapus
  12. dulu aku telponan mben dinooo pas jarak jauh ma aby.. hihi

    BalasHapus
  13. saya termausk yang gak bisa LDR, Mbak. Tp utk mereka yg sedang atau akan LDR, bisa dibaca tulisannya Mbak al. Tipnya bagus :)

    BalasHapus
  14. Dulu nyaris saya ke Jepang mbak, karena selain untuk memperbaiki ekonomi juga supaya tidak putus persaudaraan dgn keluarga Ayah, tetapi Devon menangis tidak mau berpisah dan dipisahkan, pokoknya mama dan papanya harus ada. Akhirnya kuurungkan ber LDR...

    BalasHapus
  15. kadang hidup dihadapkan pada ketidak adaan pilihan ya mbak. tapi kalau ikhlas menjalani, semua akan menjadi indah tentunya...:)

    BalasHapus
  16. ilmu baru nih :D
    makasih mba tips-nya ..

    BalasHapus
  17. izin share y pak...
    ini aku juga LDR ma suami walaw cuma beda kota masih satu propinsi
    tapi susah banget di komunikasi
    kadang shari cuma via pesan itupun standart cuma kabar n makan tanpa ada cerita
    malah pernah sehari cuma kirim pesan sekali
    dari dulu sebelum ldr emank aku ma suami punya masalah di komunikasi (suami jarang n g biasa cerita baik soal teman, kluarga apalagi kerjaan)
    sekarang LDR rasanya berat... banget
    udah sering ngobrol ini ma suami tapi g da perubahan yang berarti
    bingung nih adakah yang bisa ngasih solusi?

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. wehheehee tipsnya mnajur inih mbak.e hhhee
    perlu diterapin bener hhee

    BalasHapus