Kamis, 10 Juni 2010

Seks Korban Mitos

Urusan seks adalah suatu hal menarik yang tak akan pernah redup diperbincangkan, dikejar dan ditaklukkan. Bahkan urusan ini telah dimulai dari awal mula manusia (Adam dan Hawa) diciptakan hingga kini dan nanti.

Bicara dan ekplorasi tentang kata yang tersusun dari empat huruf ini (SEKS) memang gak ada matinya, ga ada habisnya. Karenanya pula, pembicaraan tentangnya sengaja aku naikkan ke postingan ini, bersumber dari sebuah tulisan kece menghentak, karya dr. Hendrawan Nadesul, pengasuh rubric kesehatan dan penulis buku untuk “Intisari, edisi khusus Healthy Sexual Life 4”.

Begitu banyak pertanyaan tentang seks yang diam-diam digumamkan namun, tak mendapatkan banyak jawaban yang memuaskan. Jika dulu orang tersipu malu membincangkannya karena dibalut tabu, maka kini seks telah mulai lebih berani. Namun, tetap saja bikin orang terlanjur sesat karena mitos yang telah sekian lama menyelubunginya, Korbannya segala umur, dan tak mengenal jender apalagi strata. 


Seks sendiri sebetulnya netral. Individunya saja yang membuat seks tak lagi tampil merdeka. Kultur dan tradisi juga yang menyimpan seks tersiksa berada di dalam sangkar. Dulu seks dianggap dosa dan kotor hingga kanak-kanak dilarang menyentuh, apalagi bersahabat dengannya.

Ketika pendidikan seks atau apapun namanya seakan bukan halal, seks terasa diperlakukan tidak adil. Yang sesungguhnya kodrati alami jadi seperti penyakit sampar. Sejatinya, bukan seksnya yang batil, melainkan opini orang terhadap seks yang condong dilihat tidak bersih. Dari sana juga mitos seks bermunculan. Juga, kodrat seks kian rancu dicemari oleh ragam mitos yang berkembang di Barat maupun di Timur. Persepsi orang yang mengalir dalam apapun bentuk kulturnya sering melampaui akal sehat. Termasuk akal sehat medis.

Seks kemudian jadi absurd hingga membuat orang ingin mengolah apa saja yang ada di Bumi ini untuk dijadikan obat kuat seks, ANDAIKAN BISA. Pria mana yang tidak kenal pasak bumi, tangkur buaya, kuda laut, cula badak dan lain sejenisnya? Kepopulerannya malah telah melebihi selebritas barangkali? Haha. Yang begini saja sudah bikin banyak orang keliru melihat siapa seks sesungguhnya. 

Seks berkelamin Jantan?

Tidak jelas kapan anggapan ini muncul. Mungkin dominasi dunia kaum pria, sehingga seolah-olah seks bukanlah urusan kaum wanita. Topik seks lebih menjadi bagian alur pembicaraan kaum pria ketimbang lawan jenisnya, seolah seks lebih bermasalah di kalangan kaum Adam ketimbang kaum Hawa. Padahal nyatanya tentu tidaklah begitu. Masalah seks harusnya menjadi masalah berdua, suami dan istri. Tidak dipandang sebagai masalah partial sepihak atau sebagai sosok sebuah kelamin belaka.Namun bila nyatanya kaum pria yang terlihat lebih sibuk mengurusi seks, itu karena sumber masalah boleh jadi lebih banyak berada di pihaknya.

Kodrat seks pria itu, misalnya “selalu mau namun belum tentu selalu bisa”. Dirongrong oleh kodrat yang begini saja pun kaum pria sudah dibuat kalang kabut.
Ketika seksnya senantiasa “on” dan nyaris jarang “off”, kaum pria juga bingung, bagaimana seks miliknya bisa senantiasa lancar dioperasionalkan. Harusnya diakui kalau seks pria jauh lebih njelimet dan bermasalah ketimbang seks wanita. Itu sebabnya surat-surat konsultasi yang sampai ke meja sang dokter lebih banyak berasal dari suami.

Kendati keluhan suami menjadi derita istri juga, lebih banyak istri membisu ketika seks termangu sendiri di kamar tidurnya. Why? Karena kebanyakan kaum istri lebih bisa nrimo.

Macho tapi Impoten?

Kaum pria juga masih disibukkan oleh persepsi tentang tampilan sosok macho. Maka teknik bagaimana membesarkan otot tubuh dan aneka kegiatan binaraga di mana-mana masih dikejar kaum Adam sampai hari ini. Seolah pasti kalau symbol seksinya seorang pria itu hanya pada gempalnya otot-otot dada dan lengannya, selain seberapa tebal kumis dipasang dan sebelantara apa brewoknya dibiarkan tumbuh.

Masih saja ada pria yang mencemaskan ihwal pantatnya yang tepos, lalu mengganjalnya dengan dompet tebal, dengan anggapan (keliru) supaya bisa lebih seksi. Pria juga cemas kalau dadanya kelimis, lalu menumbuhkan bulu di sana. Padahal belum tentu di situ semangat seks wanita bertumpu.

Tidak semua wanita sama seleranya terhadap elemen sosok seksinya pria. Benar sih, ada wanita yang gandrung memandang pria macho model Charles Bronson, misalnya. Tapi jangan lupa, banyak pula wanita yang malah kesemsem dengan pria klimis ala Brad Pitt atau Tom Cruz dan tak jarang pula ada wanita yang langsung jatuh hati menyaksikan lelaki kerempeng model Michael Jackson. 
Sama seperti halnya tidak semua pria sama berselera pada payudara semontok milik Dolly Parton. Juga sebuah kekeliruan lain kalau kaum pria masih beranggapan tak ada wanita yang menyukai pria berbokong tepos dan berpaha mirip belalang. 

Harus diinsyafi pula bahwa pria macho belum tentu perkasa. Ke-macho-an cuma soal tampilan. Boleh saja kumisnya setebal tembakau susur, brewoknya serem sampai ke bawah dagu dan bulu dadanya kayak ilalang. Tapi perkara kegarangan seksnya masih perlu dipertanyakan. Macho saja di hadapan istri belum cukup kalau ternyata selalu GAGAL ereksi.

Nilai kehebatan kaum Adam tak berhenti sampai di situ. Tak cukup sekedar tampil macho dan hebat ereksinya. Andai spermanya TAK subur, buat apa berkumis tebal, berbulu dada, brewokan, kalau hanya bisa ereksi dan ejakulasi doang?

Puncak kehebatan pria harus memperlihatkan tiga gatra. Tampilannya LELAKI abis, mampu EREKSI dan WAJIB MAMPU menghamili. Kurang satu gatra saja berarti belum lelaki tulen. Simbol pria sejati itu jangan lupa dilengkapi dengan sperma yang SUBUR.

Lebih dari itu, ada tuntutan lain dari pihak istri yang tak boleh dianggap sepele. Tak cukup hanya mampu ereksi, lalu bisa gagah menghamili belaka. Apakah sebagai sebuah rekreasi, seks suami juga MAMPU melahirkan puncak klimaks buat istri? Baru sampai di situ, tak sedikit kaum pria yang sudah merasa dibuat repot. Takut dibilang tak macho, cemas kalau sampai gagal ereksi dan putus asa jika gagal menghamili. Maka tak sedikit lelaki yang sesat memilih jalan, Mr. P harus diutak atik. Harus jadi the ‘Long John’ (baca: extra large), walau caranya mungkin dengan disengat tawon sekalipun? 

Mitos bahwa lelaki perkasa adalah lelaki ‘with the long john’ sampai bikin pria susah tidur. Ditambah dengan trik dan tipuan dalam pembuatan film biru dan nakalnya cerita ihwal pentingnya caliber Mr. P, bikin pria jadi minder. “Betapa alitnya milikku!” Suami tembak langsung.

Mr. P yang alit ini ternyata menjadi kasus yang dominan dari sekian banyak surat konsultasi seks yang hadir di meja pengasuh di tahun 1980-an dulu, dan itu bukan monopoli lelaki Asia. Di mana-mana pria dirongrong oleh mitos bahwa pria yang hebat seksnya adalah pria dengan Mr. P yang maha panjang dan besar alias “Long John”. Mitos itu harus diluruskan. 

Padahal kenyataannya, Mr. P yang kelewat besar dan panjang bukan saja bikin ribet membawanya. Tak sedikit istri mengeluh tak nyaman kalau mulut rahimnya disundul-sundul oleh Mr. P yang kelewat panjang sewaktu senggama.

Sesungguhnya, lorong Mrs. V itu kodratnya bersifat elastis dan potensi melebar dan menyempitnya bisa dilatih dengan latihan Kegel. Tergantung seberapa pintar dan prigel otot-otot dasar panggul berkerut dan berkedang dalam menjepit, di situ lihainya kinerja seks istri dimata sang suami.

Tak perlu cemas, seberapa banyak melahirkan bayi, selama ditata baik sewaktu penjahitan, saluran Mrs. V sehabis bersalin niscaya akan rapat kembali. Jadi, juga tak soal mau seberapa alit penampang Mr. P milik suami, selama lorong Mrs. V masih belum melar seperti karet, gelang nikmat itu bisa dicegat. Saatnya mitos jamu sari rapat segera dihapus. 

Perlu dipahami bahwa seks lelaki bukan soal ukuran, melainkan bagaimana memainkannya. Bukan apa merk mobilnya, melainkan siapa sopirnya. Percuma pakai Ferrari kalau sopirnya Cuma sopir bemo. Haha.
Kendati hanya berkendara bajaj, kalau sopirnya kelas McLaren, bisa jadi istri merem-melek.

Kasus lain yang sering terjadi adalah kenyataan istri lebih sering tertinggal untuk sama-sama memetik kenikmatan seks yang menjadi haknya. Kasus istri menghadapi suami yang bisanya cuma “tembak langsung”, misalnya. Pada kasus demikian seks istri tak pernah naik kelas. Rata-rata istri belajar seks dari perkawinannya (learning by doing sex).

Kebanyakan suami sebetulnya bukannya tidak tau kalau wanita itu perlu sejumlah waktu lebih lama untuk menjadi siap seks. Ketika seks tak cukup hanya naluri (basic instinct), ada yang perlu dikelola (oleh suami) manakala seks mulai dipraktikkan.

Gugurnya mitos “Long John”

Lorong Mrs. V memiliki apa yang disebut G-Spot. Itulah daerah paling peka terhadap rangsangan bagi wanita. Secara faali, daerah paling peka rangsang di lorong Mrs. V itu terletak pada kedalaman dua inci atau sepertiga kedalaman dari permukaan. Artinya, Mr. P hanya perlu sepanjang dua inci waktu ereksi untuk bisa membangkitkan rasa nikmat dan puas seksual istri. 

Rata-rata panjang Mr. P saat ereksi lebih dari 10 cm. Kalau kurang dari 6 cm atau kurang dari dua inci saja sudah cukup untuk menyentuh G-Spot, maka kecemasan lelaki untuk punya mustika yang sealit-alitnya pun sungguh tidak beralasan sehingga tak perlu gundah gulana.

Kesibukan lelaki terus mencari bagaimana membesarkan dan memanjangkan mustikanya itu harus dianggap tak masuk nalar medic. Apalagi kalau harus membayar mahal. Belum kalau harus menjadi korban karena hampir semua reparasi barang berharga itu cenderung membahayakan kesehatan.

Berbeda dengan organ tubuh lain, Mr. P memiliki pembuluh darah buntu (endartery). Segala utak atik yang bikin rusak pembuluh Mr. P beresiko mematikan jaringan. Termasuk membesarkannya melalui teknik pompa vakum. Tak ada gunanya gede-gede, belum tentu aman pula.

Anggapan bahwa Mr. P dapat dibuat gempal seperti hasil binaraga sungguh keliru besar. Mitos Mr. P bisa seperti otot bisep lengan pun hanya mimpi lelaki kuno. Sebab badan Mr. P itu menyerupai jaringan busa (corpus cavernosa) yang kodratnya dapat diisi oleh darah. Besar dan kerasnya penis karena dalam tempo seketika terjadi curahan sejumlah darah yang mengisi badannya. Untuk itu perlu pembuluh darah dan saraf di situ yang dijaga tetap bugar.

G-SPOT Lelaki

Kebanyakan pria dihantui rasa takut gagal memuaskan pasangannya. Mitos wanita jalang (nymphomaniac) yang tak pernah terpuaskan seksnya itu dianggap seolah sedang diidap istrinya juga. Maka rasa gelisah tak memuaskan pasangannya itu yang membuat pria terus mengembara mencari obat kuat seks.

Obat kuat seks atau aphrodisiaca tidak menambah kuat seks. Tidak semua obat yang mengaku begitu memberi khasiat seperti yang semua lelaki kira. Kalaupun ada, itu cuma menambah sensasi seks belaka. Marijuana misalnya, memang menambah sensasi puas seks yang lebih panjang. Jamur tahi lalat kerbau (LSD) yang memunculkan halusinasi seks juga berefek sama. Bukan seksnya yang bertambah kuat, melainkan sensasi seksnya yang terasakan lebih indah.

Bagi pria, potensi seks berarti mampu bertahan lama menunda ejakulasi. Kecuali obat oles (pemati rasa), tak ada cara lain mengulur durasi ereksi sebelum ejakulasi. Tidak pula oleh bantuan hormon. Tapi keliru jika ada anggapan semakin lama ereksi semakin hebat si lelaki. Tak sedikit istri mengeluh letih jika suami kelewat lama menunda ejakulasinya.

Seks lelaki itu ada di otaknya (G-Spot lelaki). Tergantung seberapa waras otak dan seberapa bugar fisik, dengan cara itu seks lelaki menjadi prima. Hal itu ditentukan oleh pikiran seks yang jernih, tak boleh terusik oleh aneka mitos seks yang menyesatkan.

Fisik bugar ditentukan oleh latihan jasmani rutin teratur, dan kecukupan gizi, khususnya menu berprotein tinggi, seperti susu, telur, ikan dan daging.
Sudah tentu butuh vitamin dan mineral pula, teristimewa unsure seng (Zn) yang besar perannya pada organ reproduksi lelaki. Kalau itu semua tercukupi, maka tak perlu lagi yang aneh-aneh lainnya.

Seks Begins in the Kitchen

Istri yang “becek”, keluhan yang sering diungkap suami. Padahal sejatinya Mrs. V yang banyak mengeluarkan lendir sewaktu seks itulah yang tergolong normal. Sehatnya memang harus seperti itu supaya tidak menimbulkan keluhan nyeri senggama (dyspareunia). Justru istri yang ‘kering’ harus dinilai tidak sehat. Semakin pintar seks suami, semakin lekas dan banyak berlendir istri sebelum senggama dimulai.

Kehendak mempertahankan mitos sari rapet hanya akan menyengsarakan istri. Sedikit minum, banyak mengonsumsi jagung, mengunyah pinang, atau jejamuan lainnya dengan tujuan supaya menyetop keluarnya lendir Mrs. V tak perlu lagi menjadi cita-cita istri mana pun. Jamu yang menjanjikan ‘bikin kering’ Mrs. V harus segera dilupakan.

Tidak ada obat kuat seks bagi wanita. Karena memang seks wanita tak perlu dibuat kuat. Berbeda dengan seks lelaki, seks wanita ‘selalu bisa kendati belum tentu selalu mau’.

Yang tersedia paling bahan berkhasiat yang menimbulkan sensasi mencetuskan libido belaka. Mitos bahwa perempuan perlu perangsang juga tidak beralasan.

Suami yang arif pandai membaca seks istri. Tidak setiap saat suami sedang menginginkan seks serta merta sang istri juga sedang mau. Perlu membangun suasana rasa ingin pada pihak istri sehingga tercapai kondisi terselaraskannya mood seks istri.

Buat istri seks tidak selalu harus berlangsung di tempat tidur. Sebab, indahnya seks istri juga ditentukan bagaimana seks boleh dimulai di mana-mana, di luar kamar tidur. Mungkin diawali di beranda, di ruang keluarga atau bahakan dimulai dari dapur. Untuk yang terakhir ada ejekan buat suami yang tidak mempedulikan mood istri, ‘sex begins in the kitchen’. Suasana duduk berdua (candle light dinner), berjalan berdua di pantai saat bulan purnama, membolak-balik album kenangan, bisa menjadi bagian dari terbangunnya suasana seks bagi istri.

Hal itu penting supaya seks suami tidak bermasalah lalu menjadi percaya pada mitos belaka. Karena tanpa itu, suami mungkin tak menyadari kalau istrinya mendadak sedingin kulkas.

Menghadapi kondisi yang suami ciptakan sendiri dalam perkawinan, kesalahan terbesar karena suami salah menyangka bahwa dirinya sudah tidak paten, lalu mulai neko-neko. Padahal sumber penyebab umumnya adalah suasana seks tidak dibangun sehingga bagi istri yang tak pandai bersandiwara, tak mungkin bisa berakting se-menggelinjang wanita penghibur. Response seksual yang muncul justru tak lebih dari gaya gedebok pisang. 

Seks lelaki membutuhkan response seksual wanita yang memadai. Response seksual istri yang dingin acapkali membuat suami dibayangi mitos ihwal istri yang frigid. Inilah kekeliruan purba seks lelaki. Padahal sekali lagi, sesungguhnya membara tidaknya response seksual istri yang dibutuhkan seks suami itu tergantung pada seberpa prigel suami mengolah seks istri sejak di awalnya. Kunci penyelesaian ada ada di tangan suami sepenuhnya. Sama sekali bukan pada jamu, obat kuat atau aphodisiaca.

Tidak semua suami mewarisi wawasan seks sama benarnya. Tanpa pendidikan seks formal, pikiran seks suami mungkin bisa jatuh sakit. Dibayangi citra yang keliru ihwal seks, banyak lelaki dan suami tidak nyaman memasuki kehidupan seksualnya. 

MARI BEREKREASI TANPA DIGANDULI ‘MITOS’

Tulisan ini bersumber dari tulisan dr. Hendrawan Nadesul, pengasuh rubric kesehatan dan penulis buku untuk “Intisari, edisi khusus Healthy Sexual Life 4”. 

Semoga bermanfaat, ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Ayam Tangkap Khas Aceh ala So Good

Yuhuu, akhirnya, Ayam Tangkap Khas Aceh ala So Good siap dihidangkan! Bagi yang sering main ke Aceh, khususnya Banda Aceh, pasti sudah fa...

Popular Posts