Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 18 Mei 2009

Memaknai Rekreasi

Posted by Alaika Abdullah On 14.42
Memberi makna hubungan seksual sebagai kegiatan rekreatif memang harus mengubah pola pikir. Seks tidak lagi ditempatkan sebagai kewajiban semata, namun harus menjadi kebutuhan yang hakiki pada setiap pasangan yang sudah menikah. Dan ketika hal itu sudah menjadi kebutuhan, maka segala upaya pun akan dikerahkan demi tercapainya tujuan itu.
Gatot, sebut saja begitu, memilih menikah saat kuliah. Ia pun tak menunda memiliki anak. Nah, ketika kariernya mulai mapan, ia bisa meledek teman-temannya yang masih dipusingkan dengan ulah anak-anak mereka.
“Kita mah sekarang tinggal senang-senangnya saja. Mau gaya apa saja dan berapa kali sehari tidak masalah,” begitu jawabnya saat ditanya soal kehidupan seksual mereka. Dimensi hubungan seksual mereka memang sudah masuk dalam tahap rekreasi – bersenang-senang.
Akan tetapi Gatot bukannya tanpa persoalan. Layaknya sebuah rekreasi, terkadang ia bosan dengan tempat yang itu-itu melulu. Pun dengan orang yang itu-itu juga. Beruntung ia punya banyak ‘bekal’ agar rekreasinya tidak membosankan. Istrinya pun ternyata menjadi mitra perjalanan yang penuh kejutan.
Banyak dari teman Gatot yang terperosok ketika memasuki dimensi rekreasi hubungan seksual ini. Komunikasi seksual yang tidak jalan, istri yang tidak mau neko-neko, sampai ke percekcokan karena salah satu dari pasangan itu melakkukan selingkuh. Tidak mudah mereka yang terperosok ini keluar dari lubang persoalannya. Tak jarang justru perempuan yang sudah menjadi korban selingkuhan suami harus rela berkorban lagi untuk memulai ‘rekreasi’ itu.
Sekali lagi, member makna hubungan seksual sebagai kegiatan rekreasi memang harus mengubah pola pikir. Seks tidak lagi ditempatkan sebagai kewajiban semata, namun harus menjadi kebutuhan yang hakiki pada setiap pasangan yang sudah menikah. Kala seks sudah menjadi kebutuhan, amka segala upaya pun akan dikerahkan demi tercapainya tujuan itu.

0 komentar:

Poskan Komentar