Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Yang Penting Nikmatnya, Bukan Gayanya

Aktivitas seks punya banyak sisi. Ada sisi prokreasi, rekreasi, relasi, bahkan religi. Karena punya banyak dimensi, kegiatan seks juga bisa dinikmati. Jika dipandang dari dua sisi sekaligus, rekreasi dan relasi, kegiatan seks tidak hanya bisa memberikan kenikmatan biologis, tapi juga kenikmatan psikis, bahkan spiritual. Tulisan menarik ini ditulis oleh M. Solehkhudin dalam rangkaian article Majalah mungil “Intisari edisi khusus Healthy Sexual Life”. Yuk kita simak lanjutannya….
Dalam sebuah guyonan, seks seperti slogan iklan sebuah merek sepatu olahraga, ‘Just do it!” Lakukan saja, tak usah banyak berteori. Tentang cara dan gayanya, ikuti saja slogan iklan sebuah produk deodorant, “Sentuhan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”. Urusan tentang kapan dan di mana dilakukan, seks juga bisa disamakan dengan slogan sebuah produk minuman bersoda “Kapan saja, dimana saja.”
Menurut guyonan-guyonan di atas, seks akan membimbing pelakunya menjadi lebih kreatif dalam semua hal, term…

Memaknai Rekreasi

Memberi makna hubungan seksual sebagai kegiatan rekreatif memang harus mengubah pola pikir. Seks tidak lagi ditempatkan sebagai kewajiban semata, namun harus menjadi kebutuhan yang hakiki pada setiap pasangan yang sudah menikah. Dan ketika hal itu sudah menjadi kebutuhan, maka segala upaya pun akan dikerahkan demi tercapainya tujuan itu.

Gatot, sebut saja begitu, memilih menikah saat kuliah. Ia pun tak menunda memiliki anak. Nah, ketika kariernya mulai mapan, ia bisa meledek teman-temannya yang masih dipusingkan dengan ulah anak-anak mereka.

“Kita mah sekarang tinggal senang-senangnya saja. Mau gaya apa saja dan berapa kali sehari tidak masalah,” begitu jawabnya saat ditanya soal kehidupan seksual mereka. Dimensi hubungan seksual mereka memang sudah masuk dalam tahap rekreasi – bersenang-senang.

Akan tetapi Gatot bukannya tanpa persoalan. Layaknya sebuah rekreasi, terkadang ia bosan dengan tempat yang itu-itu melulu. Pun dengan orang yang itu-itu juga. Beruntung ia punya banyak ‘bekal’…